Gerakan Ahmadiyah di Indonesia


Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Ahmadiyah sebagai sebuah gerakan keagamaan lahir di india pada abad ke-19 dengan latar belakang kemunduran umat Islam India di belakang agama, politik, ekonomi, sosial, dan bidang kehidupan lainya, terutama setelah pecahnya revolusi India tahun 1857 yang berakhir dengan kemenangan Inggris sehingga India dijadikan sebagai salah satu koloni Inggris yang terpenting di Asia.

Akan tetapi, dalam perkembanganya, secara intelektual reformisme India memainkan pengaruh yang tidak dapat abaikan. Tulisan Amir Ali dan Maulana Muhammad Ali, jika tidak termasuk Muhammad Iqbal meski jarang diakui sebagi sumber spiritual bagi kaum reformis Indonesia, sumber tidak bisa dibiarkan begitu saja.[1] lagi meskipun uasaha dakwah gerakan Ahmadiyah India, khususnya Ahmadiyah Lahore yang di bawa ke Jawa oleh Mirza Wali Ahmad baiq (1924), secara angka jauh dari berhasil, Al-Qur’an terjemahan Ahmadiyah bertindak sebagai suatu sumber ilham dan bahkan peniruan dari beberapa muslim terkemuka Indonesia.[2]

Di samping sebagai ajaran, Ahmadiyah juga merupakan gerakan keagamaan yang dipimpim oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di Qaidan, Punjab, India.[3] Gerakan yang lahir tahun 1888 ini oleh kalangan sunni ortodoks dianggap menyimpang ari ajaran Islam sebenarnya.

Ajaran-ajaran yang umumnya dianggap menyimpang terutama mengenai tiga hal, yakni penyaliban Nabi Isa a,s., al-Mahdi (Imam Mahdi) yang di janjaikan akan muncul di akhir jaman, dan tentang kewajiban berjihad. Mengenai penyaliban Nabia Isa a.s., Ahmadiyah juga berpendapat tidak meninggal di kayu salib, Nabi Isa hijrah ke Kasmis dan meninggal lebih dari usia 120 tahun.

Mengenai al-Mahdi, Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan dirinya sebagai penjelmaan Isa ibn Maryam dan Muhmammad bagi umat muslim, penjelmaan Krisna bagi umat Hindu. Kepercayaan terhadap dirinya termasuk salah satu rukun iman (bagi Ahmadiayah Qadiyan) karna datangya di awal abad ke-14 M. diramalkan oleh Nabi Muhammad sendiri, disamping itu menyatakakan dirinya menerima wahyu dari Tuhan. Alasan ke dua itulah akhirnya sebagai Nabi bagi Ahmadiyah Qadian dan Sebagai Mujaddid bagi Ahmadiyah Lahore.

Munculnya gerakan Ahmadiyah di India kemudian meyebar hampir keseluruh dunia termasuk Indonesia, yaitu aliran Qadian dan Lahore. Kedua aliran ini mempunyai perbedaaan yang mendasar, tetapi sama-sama mengacu pada Mirza Ghulam Ahmad.  Ahmadiyah di perkenalkan di Indonesia pada situasi politik, ekonomi, dan sosial keagamaan tidak menentu, yaitu sebelum tahun 1920-an.

  1. Pokok-pokok Masalah

Pokok yang menjadi perhatian ini adalah

  1. Mengapa gerakan ahmadiya di Indonesia tidak dapat di kembangkan dengan baik, seperti Muhamdiyah dan Nahdratul Ulama, khususnya pada tahun 1920-1942?
  2. Sebagai gerakan keagamaan yang telah tumbuh dan berkembang, adakah pengaruh Ahmadiyah terhadap gerakan Islam di Indonesia?
  3. Kontribusi apa yag diberikan Ahmadiyah terhadap dinamika gerakan Islam modern di Indonesia abad ke-20?

 

  1. Tujuan dan Kegunaan

Keguanaan penelitian ini secara teoritis dan praktis ialah :

  1. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi penulisan yang relative dan akurat tentang Ahmadiyahdi Indonesia.
  2. Tulisan ini diharapkan akan dapat mengungkapkan fakta-fakta sejarah baru mengenai dinamika gerakan keagamaan dan pemikiran Islam di Indonesia pada abad ke-20 dengan melihat kasus Ahmadiyah.
  3. Hasil kajian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai penyempurna terhadap penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya dan dapat dijadikanmodal dalam penelitian sejenis, baik dalam masalah sejenis maupun berbeda.

 

  1. Metodologi

Kajian ini menggnakan pendekatan sejarah yang bertumpu pada empat kegiatan pokok, yaitu :

  1. Heuristik, kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau
  2. Kritik (Sejarah), menyelidiki apakah jejak-jejak tersebut asli, baik bentuk maupun isinya
  3. Interpretasi, menetapkan saling hubung antar fakta yang diperoleh
  4. Penyajian, menyampaikan sintesis yang diperoleh dalam satu bentuk kisah sejarah.

 

  1. Sumber Penelitian

Sumber penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas sumber primer dan sekunder. Sumber primer terdiri atas :

  1. Dokumen ahmadiyah berupa kongres atau rapat, buku kenang-kenangan, laporan tahunan, atau buku majalah yang diterbitkan ahmadiya, dan otobografi yang diterbitkan tokoh-tokohyang terlibat dalam Ahmadiyah.
  2. Wawancara mendalam dengan pimpinan tokoh-tokoh organisasi yang masih hidup.
  3. Dokumen resmi pemerintah yang berkaitan dengan kehiatan Ahmadiyah.

 

  1. Teknik pengumpulan data dan analisis data

Data yang di kumpulkan melalui studi kearsipan dan kepustakaan. Setelah terkumpul diadakan penilaian dengan menggunakan kritik intern dan ekstern yang menyangkut kritik interprestasi positif dan negatif untuk menilai reliabilitas dan juga sifat representative data. Data yang sudah dinilai kemuadia di analisis dengan pendekatan ilmu sosial dan agama yang disusun berdasarkan preodesasi, lalu dibuat kategori permasalahanya yang memungkinkan interpretasi dan sudut tinjauan baru tentang Ahmadiyah antara tahun 1920-1942. Data yang diperoleh dari studi lapangan dengan teknik wawancara dipergunakan sebagai pembanding untuk menambah data yang diperoleh melalui studi kearsipan dan kepustakaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

  1. Islam di India Masa Penjajahan Ingris

India yang berpenduduk mayoritas hindu dan Budha pernah dikuasai sebelas dinasti Islam, yaitu dinasti Ghaznawiyah (997-1186 M.) sampai dinasti Mughal (1526-1605 M.) selama kurang lebih delapan setengah abad. Menutrut Nazaruddin Siddiqi, sejarah Islam di India sejak pemerintahan Yamin ad-Daulah Mahmud (998-1030 M.) di India juga selalau terjadi peperangan untuk merebut kekuasaan sehingga India senantiasa menghadapi perubahan penguasa. Kekuasaan dinasti Ghazanawi dipatahkan oleh pengikut-pengikut Ghaur Khan yang berasal dari suku bangsa Turki. Mereka masuk ke India tahun 1175-1206 M. Lalu India jatuh ke tangan Qutbuddin Aybak yang selanjutnya menjadi pendiri dinasti Mamluk India (1206-1316 M). Kemudian berturut-turut ke tangan dinasti Khalji (1296-1316 M.), dinasti Tughluq (1320-1413 M.), dan dinasti lain sampai Barbur datang pada permulaan abad ke-16 dan membentuk kerajaan Mughal di India.

Ada tiga kerajaan besar yang menguasai India. Kerajaan Mughal (1526-1858 M.) yang berpusat di Delhi, kerajaan Turki Usmani (1300-1922 M.) yang berpusat di Istambul, dan kerajaan Safawi (1501-1732 M.) yang berpusat di Persia.

Ketiga kerajaan islam itu mengalami kemunduran yang akhirnya membawa kehancurannya. Kerajaan Usmani terpukul di Eropa, kerajaan Safawi dihancurkan oleh bangsa Afghan, sedangkan daerah kekuasaan kerajaan Mughal diperkecil oleh raja-raja India. Sejak saat itu, kekuatan politik militer Islam menurun. Sementara itu, Eropa dengan kekayaan-kekayaan yang diangkut dari Amerika dan Timur Jauh semakin bertambah kaya dan maju.

Mughal adalah suatu kerajaan islam yang berkuasa di India. Kerajaan ini didirikan oleh keturunan Timur Lenk, Zainuddin Babur (1484-1530 M.) pada tahun 1256 M. Kedatangannya ke anak benua asia ini dicatat dala sejarah dengan membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat dan peradaban India, terutama dalam bidang literatur dan arsitektur. Keperkasaan yang dimiliki Babur dalam berperang telah diturunkan kepada generasi penerusnya sehingga kerajaan yang dibangunnya mengalami kejayaan selama satu setengah abad. Dengan ambisi yang kuat dari raja-raja Mughal, semua kerajaan kecil yang ada di India, baik yang dipimpin Islam sebagai peninggalan dinasti Ghasnawi (seperti Khalji, Tughluq, dan Lodi) meupun kerajaan Hindu, dipersatukan dan tunduk dibawah kekuasaan kerajaan Mughal di Delhi.

Masa kejayaan kerajaan ini sebenarnya cukup lama, yakni 332 tahun. Tetapi hanya dapat dipertahankan selama 181 tahun, yakni sampai masa pemerintahan Aurangzeb (1658-1707 M.) . Meskipun sejak zaman Babur sampai Aurangzeb tidak pernah lepas dari peperangan dan perebutan kekuasaan, kerajaaan Mughal tidaklah melemah. Hal ini disebabkan terutama sekali, karena kualitas kepemimpinan para sultan yang menguasai kerajaan ini. Terutama seperti Akbar 1 dan Aurangzeb berhasil mengantarkan kerajaan Mughal ke puncak kejayaannya.

Pada masa Aurangzeb yang bergelar Alamghir, terjadi pemberontakan-pemberontakan dari golongan Hindu. Pemberontakan Sikh dipimpin Guru Tegh Bahadur, Kemudian Guru Gobin Singh. Golongan Rajput juga mengadakan pemberontakan di bawah pimpinan raja Udaipur, sedangkan golongan Maratha dipimpin Sivaji dan anaknya, Sambaji. Sepeninggal Aurangzeb, pemebrontakan semakin gencar dan kuat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau golongan-golongan Hindu yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mughal mengambil sikap menentang.

Islam hadir di India dibawa oleh orang Arab, Persia, Turki dan berkuasa selama kurang lebih delapan setengah abad. Hal itu memberi pengaruh, sedikit demi sedikit banyak yang beralih agama ke agama Islam, walaupaun jumlahnya tidak mayoritas. Setelah beratus tahun dan turun-temurun menganut agama Islam, mereka terbawa dalam pertentangan dan persaingan ynag keras antara aliarn, mazhab, dan golongan Islam yang mereka anut, seperti:

  1. Golongan Syi’ah dengan golongan Sunni. Golongan Sunni menganggap glongan Syi’ah keluar dari Islam.
  2. Aliran Mu’tazilah dengan Asy’ariah dan Maturidiah
  3. Kaum Sufi dengan kaum Syari’ah
  4. Pengikut satu mazhab fiqh dengan pengikut mazhab lain.

Sementara itu, paham keagamaan yang mereka anut membawa pengaruh juga pada sika dan perilaku keberagamaan mereka, misalnya:

  1. Sikap statis yang membawa taqlid kepada pendapat dan penafsiran ulama-ulama tertentu.
  2. Sikap tidak kritis yang membawa mereka membiarkan keyakinan dan ibadah mereka bercampur dengan ajaran dan tradisi masyarakat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran dan tradisi Islam, seperti ajaran Hindu dan Budha.
  3. Sikap konservatif yang membawa mereka menentang penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa bukan Arab, seperti bahasa Persia atau Urdu.

Disamping itu mereka terbiasa meminum khamr, menghisap candu, dan melacur. Kebanyakan umat Islam malas datang ke masjid sehingga banyak masjid yang kosong. Sementara itu, Inggris, Portugis, Prancis, dan Belanda telah memasuki India Sejak abad ke-15 M. untuk kepentingan perdagangan dan pendudukan. Lama-kelamaan berubah untuk kepentingan penjajahan, seperti yang dibuktikan Inggris ketika menghancurkan dinasti Mughal pada tahun 1857 dan menjajah sampai tahun 1947 M.

Keadaan India semakin memburuk terutama setelah terjadi pemberontakan Munity di tahun 1857. Perkembangan situasi dan kondisi umat Islam di India sangat menyedihkan, terutama pada abad ke-18 M. Umat Islam pemikirannya statis, sedangkan perilaku dan sifatnya konservatif. Keadaan seperti ini menyadarkan pemimpin-pemimpin Islam India untuk mengkaji dan mencari solusi atas masalah itu. Dalam situasi seperti ini terjadilah gerakan pembaharuan. Dalam gerakan intelektual ada tiga tokoh utama India, yaitu Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, dan Muhammad Iqbal yang dianggap banyak berperan dalam gerakan ini, meskipun sebenarnya Syah Waliyullah dan beberapa yang lain, seperti Mirza Gulam Ahmad dengan Ahmadiyyahnya, tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Pembaruan di India sebenarnya sudah dimulai sebelum periode modern, yaitu sejak pertengahan abad ke-18 M. oleh seorang ulama terkenal, Syah Waliyullah (1703-1762 M.). Pembaruan ini kemudian dilanjutkan puteraya, Syah Abdul Aziz (1746-1823 M.), dan dilanjutkan lagi oleh murid Abdul Aziz dan Sayyid Ahmad Syahid yang memimpin gerakan Mujahidin di India dan wafat dalam pertempuran melawan pasukan Sikh. Ide-ide pembaruan yang dilakukan Syah Waliyullah adalah sebagai berikut:

  1. Bidang Politik

Ide pokok dalam bidang ini adalah mengembalikan kejayaan Islam dan umat Islam sebagai suatu kekuatan dengan sistem seperti yang telah dipraktikkan oleh Khulafa ar-Rasyidin yang demokratis dan dibentuk melalui musyawarah.

  1. Bidang Pengajaran Islam

Ide pokok dalam bidang ini adalah menegakkan kembali ajaran islam yang sejati dengan jalan kembali kepada Al-Quran dan Hadist. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakmurnian ajaran Islam yang dipraktikkan umat islam, yaitu:

  1. Bercampur dengan ajaran nonmuslim

Keyakinan umat islam harus dibersihkan dari adat istiadat dan ajaran-ajaran Hindu. Sumber asli ajaran Islam hanyalah Al-Quran dan Hadits. Jika ingin mengetahui ajaran-ajaran Islam sejati, orang Islam harus kembali ke kedua sumber itu, bukan ke buku-buku tafsir, fiqh, ilmu kalam, dan sebagainya.

  1. Sikap dan cara berfikir statis

Sikap taqlid, yaitu ikut dan patuh pada penafsiran dan pendapat ulama-ulama di masa lampau. Sikap inilah yang berkembang di kalangan ulama di India pada masa itu mendrong ke arah kondisi umat Islam yang statis. Dalam kondisi demikian, wajar kalau tidak terjadi perkembangan pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat Islam dalam mengahadapi kemunduran umat Islam.

Berdasarkan pengalama dan sejarah umat Islam India serta hasil studi dan anaisis yang dilakukan sayyid Ahmad Khan, maka muncullah ide-ide pembaruannya. Ide-ide pembaruan tersebut antara lain:

  1. Umat Islam India Mundur karena mereka tidak engikuti perkembangan zaman. Dasar peradaban baru ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Kekuatan dan kebebasan akal. Secara umum manusia memiliki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya.
  3. Pendapat ulama di masa lampau tidak semuanya harus ditaati, karena ada yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern.
  4. Bekerja sama dengan Inggris, hal ini akan membuat orang Islam memperoleh kemajuan di bidang politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Ide-ide pembaruan tersebut dianut dan disebarluaskan oleh murid serta pengikutnya. Timbullah apa yang dikenal dengan gerakan Aligarh, yang berpusat di sekolah Mohammadan Anglo Oriental Colledge (MAOC). Gerakan ini pula yang meningkatkan umat Islam India dari masyarakat yang mundur menjadi masyarakat yang bangkit menuju kemajuan yang pengaruhnya sangat terasa dikalangan intelektual Islam India.

  1. Munculnya Ahmadiyah
    1. Latar belakang

Munculnya Ahmadiyah di India merupakan serentetan peristiwa sejarah dalam Islam yang tidak terlepas dari situasi umat Islam pada saat itu, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Sejak kekalahan Turki Usman dalam serangannya ke benteng Wina tahun 1683, pihak barat mulai bangkit menyerang kerajaan tersebut, dan serangan itu lebih efektif lagi di abad ke-18. Umat Islam semakin terisolasi dengan sikap-sikap lama yang masih dipelihara. Keadaan umat Islam India ini semakin memburuk, terutama sesudah terjadinya pemberontakan Mutiny tahun 1857 M. Itulah latar belakang kelahiran Ahmadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam.

Kelahiran Ahmadiyah juga berorientasi pada pembaruan pemikiran. Di sini Mirza Gulam Ahmad yang mengaku telah diangkat Tuhan sebagai al-Mahdi dan al_Masih merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memajukan Islam denagn memberikan interpretasi baru terhadap ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan tuntunan zaman dan “ilham: Tuhan kepadanya. Motif Mirza Ghulam Ahmad ini tampaknya didorong oleh gencarnya serangan kaum misionaris Kristen dan propaganda Hindu terhadap umat Islam pada saat itu.

H.A.R Gibb memberikan komentar bahwa di India lahir satu-satunya sekte baru dalam Islam yang berhasil. Sekte itu ialah Ahmadiyah yang berawal sebagai gerakan pembaruan yang bersifat liberal dan ccinta damai dengan maksud menarik perhatian orang-orang yang telah kehilangan kepercayaan terhadap Islam dengan pemahaman yang lama. Mirza Ghulam Ahmad, menyatakan dirinya tidak hanya sebagai al-Mahdi Islam dan al-Masih bagi umat Kristen, tetapi juga sebagai Avatar (inkarnasi) Krishna. Sayangnya pembaruan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh keyakinan umat Islam yang sangat sensitif, yaitu masih adanya nabi dan wahyu yang diturunkan Tuhan sesudah Al-Quran dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad SAW. Inilah yang menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan umat Islam terhadap Ahmadiyah.   

  1. Awal Berdirinya

Sejak menerima wahyu, Mirza Ghulam ahmad menyatakan bahwa dirinya sebagai al-Masih yang dijanjikan sekaligus sebagai al-Mahdi. Akan tetapi, hal itu baru diumumkan pada awal tahun 1891. Menurut Ahmadiyah Qadian, setelah diadakan pemba’iatan tahun 1889 Mirza Ghulam Ahmad mengorganisasi para pengikutnya menjadi suatu paham baru yang merupakan bagian dari gerakan baru dalam Islam dengan nama gerakan Ahmadiyah.

Dengan demikian, ada perbedaan tahun berdirinya Ahmadiyah antara Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian. Ahmadiyah Lahore berdasarkan wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad tahun 1888, sedangkan Ahmadiyah Qadian berdasarkan pelaksanaan pembai’atann di tahun 1889. Nama Ahmadiyah menurut penjelasan dari Maulana Muhammad Ali dan Ghulam Ahmad, tampaknya bukan diambil dari satu nama pendiri gerakan itu, melainkan diambil dari salah satu nama Rasulullah. Nama itu diambil dari surat ash-Shaff ayat 6 yang isinya memuat informasi Nabi Isa a.s kepada Bani Israil bahwa sesudahnya nanti akan datang seorang nabi bernama Ahmad. Ini yang dipandang aneh. Mirza Ghulam Ahmad sendiri kemudian mengklaim nama itu menunjuk kepada dirinya yang diutus oleh Tuhan untuk menunaikan Tugas kemahdiannya. 

  1. Perpecahan di Kalangan Ahmadiyah

Saat Mirza Ghulam Ahmad masih hidup, keutuhan dan kesatuan pengikut Ahmadiyah sangat dirasakan. Suasana seperti itu berjalan sampai menjelang meninggalnya Khalifah I, Maulawi nuruddin, pengganti Mirza Ghulam Ahmad setelah ia meninggal pada 30 Mei 1908. Pada masa Maulawi Nuruddin, Ahmadiyah sebagai gerakan Mahdi telah mencapai kemajuan pesat dan mulai dikenal di kalangan umat Islam secara luas. Akan tetapi, menjelang meninggalnya, bibit perpecahan sudah mulai tampak. Menurut Mirza Bashir Ahmad, ada tiga persoalan yang menjadi ajang perbedaan pendapat di kalangan Ahmadiyah yang mengakibatkan perpecahan, yakni masalah Khilafah (pengganti pemimpin), iman kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan kenabian.

  1. Karakteristik Ahmadiyah

Ahmadiyah, selain sebagai paham, juga sebagai gerakan Islam. Ciri lain dari gerakan Ahmadiyah adalah berorientasi pada pembaruan pemikiran yang bercorak liberal. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan Ahmadiyah lebih bercorak rasional, terutama dalam kajiannya mengenai masalah akidah, seperti kajian persoalan kenabian, wahyu, penjelmaan al-Masih ibn Maryam, dan kemahdian Ahmadiyah. Tokoh ini berkeyakinan bahwa satu-satunya cara untuk mempersatukan umat beragama dan menjauhkan mereka dari sikap permusuhan hanyalah dengan membawa mereka ke dalam Islam sambil menunjukkan bukti-bukti kekeliruan mereka.

  1. Reaksi Terhadap Ahmadiyah

Awal timbulnya reaksi umat Islam khususunya dan Umat hindu serta Kristen adalah sewaktu Mirza Ghulam Ahmad mendakwahkan diri secara terang-terangan mengenai ide pembaruannya yang menurutnya atas dasar wahyu ilahi. Ide pembaruan yang dimaksud adalah kedudukannya sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan. Pernyataan bahwa dirinya sebagai Masih Mau’ud (isa a.s yang dijanjikan) diumumkan pada tahun 1891 melalui sebuah selebaran.

Pada bulan Juli 1891 dilaksanakan perdebatan antara Mirza Ghulam Ahmad (didampingin Nuruddin) dan Muhammad Husain Batalwi di Ludhiana. Materi yang diperdebatkan sekitar masalah kematian Nabi Isa a.s. Pada bulan Oktober 1891 dilakuakn perdebatan kedua dan dengan pembahasan yang sama.

Pada tahun 1893 ada reaksi dari kalangan missionaris Kristen, khususnya di Punjab. Mereka yang menentang dakwah Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Masih yang dijanjikan adalah Imaduddin, Thakur Das dan Abdullah Atham. Sebagaimana yang dilakukan tokoh Islam mereka juga menentang dengan cara berdebat.

Menurut Mirza Ghulam Ahmad, Yesus tidak meninggal di atas tiang salib, tetapi masih hidup setelah disalib dan mengadakan perjalanan ke Kashmir mengurus suku-suku bangsa Israil yang hilang di sana hingga meninggal usia 120 tahun. Dengan demikian, Yesus adalah seorang laki-laki, seorang nabi dan bukan anak Tuhan. Mirza Ghulam Ahmad adalah juga seorang nabi yang memiliki peran sejarah yang sama.

Reaksi lain muncul dari kalangan Hindu, yakni dari Arya Samaj. Semenjak awal, Mirza Ghulam Ahmad memang harus berhadapan dengan gerakan Arya Samaj yang berusaha mempertahankan kepercayaan lama dengan menekankan gagasan kembali kepada Weda. 

 

Bab III

  1. Awal Kemunculan

Secara rinci, dapat dikemukakan bahwa kedatangan Ahmadiyah Qadian di Indonesia didahului oleh kisah keberangkatan dua orang pemuda ke India, yaitu Abu Bakar ayyub dan ahmad Nurrudin. Kedua pemuda itu lulusan dari perguruan sumatra Thawalib yang dipimpin Dr. H. Abdul Karim amrullah ( Haji Rasul) di Padang Panjang. Setelah selesai mengikuti pelajaran di perguruan tersebut.

 Setelah masuk Ahmadiyah, mereka berkirim surat kepada keluarga mereka di tanah air. Mereka menginformasikan tentang biaya hidup di Qadian yang sangat murah. Bahkan, jika ingin bersekolah di sini, meski tidak mampu, akan mendapat bantuan wakaf sekolah. Atas informasi itu banyak pelajar lain yang datang ke Qadian. Pada tahun 1926, tercatat beberapa orang yang belajar di sekolah Ahmadiyah datang dari berbagai kota di Sumatra, antara lain Padang, Padang Panjang, Batu Sangkar, dan Tapaktuan, Aceh. Setibanya di sumatra mereka mendirikan perkumpulan Ahmadi Indonesia.

Maulana Rahmat Ali adalah pembawa paham Ahmadiyah Qadian ke Indonesia bersama pemuda-pemuda Indonesia yang belajar di Qadian. Oleh karena itu, Maulana Rahmat Ali dipandang sebagai perintis Ahmadiyah Qadian di Indonesia yang dalam perkembangannya menjadi sebuah organisasi dengan nama Jema’at Ahmadiyah Indonesia.

Ahmadiyah Lahore sudah lebih dulu dikenal di Jawa, tepatnya di kota Yogyakarta pada tahun 1924, setahun lebih awal dibanding Ahmadiyah Qadian yang dikenal di Sumatra. Informasi mengenai latar belakang kedatangan Ahmadiyah Lahore di Jawa tidak sejelas kedatangan Ahmadiyah Qadian di sumatra. Kedatangan dua orang mubaligh dari Hindustan, Maulana Ahmad dan Mirza wali Ahmad dipandang sebagai perintis Ahmadiyah Lahore di Indonesia tepatnya di Pulau Jawa.   

 

  1. Tokoh-Tokoh dan Struktur Organisasi

Ahmadiyah Qadian diperkenalkan ke Indonesia sejak tahun 1925 dan telah tersebar ke beberapa kota, baik di sumatra maupun di Jawa dengan beberapa cabang. Pengurus besar Ahmadiyah Qadian terbentuk pada tahun 1935 melalui konferensi yang diadakan tanggal 15 dan 16 Desember 1935.

Konferensi tersebut memutuskan membentuk pengurus besar Ahmadiyah. Pengurus tersebut terdiri dari seorang ketua, dua orang sekertaris dan empat orang anggota. Mereka yang terpilih sebagai pengurus adalah:

Ketua              : R. Moh. Muhjidin

Sekertaris I      : Sirati Kohongia

Sekertaris II    : Moh. Usman Natawidjaja

Anggota          : R. Markas Atmasamita

                          R. Hidajath

                          R. Sumadi Gandakusumah

                          R. Kartaatmadja.

Berbeda dengan Qadian, gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia secara struktural tidak memiliki hubungan dengan Ahmadiyah yang berpsat di Lahore, Pakistan. Ahmadiyah Lahore pada hakikatnya bukan merupakan organisasi yang ketat.

Pada tanggal 5 Juli 1928 Pengurus Besar Muhammadiyah mengirimkan maklumat ke seluruh cabang yang isinya melarang mengajarkan ilmu dan paham Ahmadiyah di Lingkungan Muhammadiyah. Dengan keluarnya maklumat ini, tiap-tiap orang yang mengikuti ajaran Ahmadiyah harus menentukan pilihan, tetap di Muhammadiyah atau membuang ajaran Ahmadiyah.

Djojosugito maupaun Muhammad Husni sebagai pihak yang pro-Ahmadiyah dibawah tekanan perasaan memilih Ahmadiyah. Mereka diberhentikan dan dipecat dari Muhammadiyah. Tindakan demikian diberlakukan pula kepada Muhammad Kusban, Sutantyo, Supratolo. Mereka mencari wadah lain untuk beraktivitas. Akhirnya, pada tanggal 10 Desember 1928 mereka membentuk Indonesische Ahmadiyah Beweging atau Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Centrum Lahore) disingkat GAI.

 

  1. Daerah Penyebaran dan Metode Penyebaran

Penyebaran paham gerakan Ahmadiyah pada masa akhir pemerintah kolonial Belanda, terutama pada tahun 1924 sampai dengan tahun 1942 – Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore – masih sangat terbatas. Ahmadiyah Qadian telah tersebar di beberapa kota Sumatra dan Jawa, sedangkan Ahmadiyah Lahore hanya terbatas di Pulau Jawa, khususnya Yogyakarta dan sekitarnya.

  1. Sumatra

Tenaga Mubaligh yang dimiliki ahmadiyah relatif sangat sedikit. Mereka yang dipandang sebagai mubaligh inti hanyalah Maulah]na Rahmat Ali dari Hindustan yang dibantu beberapa tenaga yang pernah belajar beberapa tahun di Madrasah Ahmadiyah Qadian. Mereka sebagian berasal dari Sumatra Barat. Dapat dikatakan bahwa munculnya Ahmadiyah di berbagai kota di wilayah Sumatra dibawa oleh orang-orang Padang, terutama melalui perdagangan oleh karena itu, Ahmadiyah di wilayah sumatra meskipun muncul, perkembangannya sangat lamban dan keanggotaannyapun tidak dapat diketahui dengan jelas, khususnya pada akhir pemerintah kolonial Belanda.

  1. Jawa

Selanjutnya, pada tahun 1931 Rhmat Ali meninggalkan kota Padang, Sumatra Barat, menuju Jawa. Daerah yang pertama kali dituju Rahmat Ali di Jawa tahun 1931 adalah Batavia sebagai kota paling ramai di Jawa yang setelah kemerdekaan Indonesia menjadi ibu kota negara. Selanjutnya adalah kota Bogor. Selain Jakarta dan Bogor, Ahmadiyah juga berkembang di daerah Garut, tepatnya di daerah Priyangan dan Tasikmalaya.

Di Jawa, selain di wilayah Jawa Barat, Ahmadiyah Qadian juga berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur walaupun tidak sepesat di Jawa Barat. Khususnya di Jawa Tengah, sebelum Ahmadiyah qadian diperkenalkan di Indonesia, pada tahun 1924 Ahmadiyah Lahore telah diperkenalkan di Indonesia oleh dua orang mubaligh dari ahmadiyah Centrum Lahore, yaitu Maulana Muhammad dan Mirza Ahmad Baig.

Berbeda dengan Ahmadiyah qadian, daerah penyebaran Ahmadiyah Lahore hanya terbatas di wilaah pulau Jawa. Selain karena tujuan Mirza Wali ahmad Baig ke Jawa untuk menyaingi kristenisasi di Pulau Jawa, hal ini mungkin juga disebabkan keberadaan ahmadiyah Qadian yang lebih dulu tersebar di luar Jawa karena tidak ada pengikutnya Ahmadiyah Lahore yang pergi atau pindah dari pulau Jawa.

Adapun yang menjadi daerah-daerah penyebaran paham Ahmadiyah Lahore di Jawa ialah:

  1. Yogyakarta

Suatu hal yang menarik dan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kota Yogyakarta, tempat kelahiran Muhammadiyah dan seklaigus menjadi basis penyiaran Islam, adalah pusat penaburan benih Ahmadiyah Lahore. Di tengah-tengah Muhammadiyah inilah gerakan ahmadiyah Lahore Indonesia lahr dengan dimotori oleh mantan aktivis Pengurus Besar Muhammadiyah, R. Ng. Minhadjurrahman Djojosugito dan Muhammad Husni. 

  1. Purwokerto

Ahmadiyah Lahore mulai dikenal di Purwokerto sejak berdirinya Gerakan Ahmadiyah Indonesia Centrum Lahore pada tahun 1928. R. Ng. Djojosugito selaku ketua gerakan Ahmadiyah saat itu masih bertugas sebagai guru di Purwokerto. Bahkan, sebelumnya ia juga menjadi ketua cabang Muhammadiyah Purwokerto. Meskipun bukan kota kelahiran Ahmadiyah, koya ini menjadi pusat kegiatan Ahmadiyah karena banyak tokohnya yang tinggal di Purwokerto. Mirza Wali ahmad Baig sendiri akhirnya pindah ke Purwokerto sebelum ke Jakarta. Hampir semua kegiatan muktamar pada masa pemerintahan kolonial Belanda berlangsung di Purwokerto, termasuk muktamar pertama pada tahun 1929. Pada waktu itu dibentuk pula cabang Purwokerto dengan ketua Kiai Ma’ruf. Cabang lain yang juga telah terbentuk adalah Purbolinggo yang diketuai KH. Ahmad Sja’rani, cabang di Pliken diketuai KH. A. Abdurrahman, Surakarta diketuai Muhammad Kusban, dan Yogyakarta diketuai R. Supratolo.

 

  1. Wonosobo

Masuknya Ahmadiyah di daerah Wonosobo tidak lepas dari peran Muhammad Sabitun, putera kelahiran Tanjungsari, Desa Binangun 25 km dari kota Wonosobo. Ia adalah salah seorang murid Wali Ahmad Baig yang ikut menempuh studi di Lahore. Sebelumnya, ia sekolah di mambaul ‘Ulum Djasaren Surakarta bersama Muhammad Irsyad dari Purwokerto. Setelah itu, Muhammad Sabitun pindah ke Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta. Baru pada tahun 1924, setelah mengenal Mirza Wali Ahmad Baig dia meneruskan sekolah ke Lahore.

Ahmadiyah Qadian lebih berhasil sebagai organisasi sektarian di Indonesia, sedangkan Ahmadiyah Lahore lebih berpengaruh sebagai suatu aliran pemikiran melalui kaum elit pelajar di Jawa yang ide-idenya membaur di sebagian kalangan masyarakat Islam.

  1. Faktor-faktor penunjang dan Penghambat Perkembangan
    1. Fator-faktor Penunjang Perkembangan
      1. Pendekatan Rasional pada Islam

Pemikiran-pemikiran keagamaan yang diajarkan Ahmadiyah menawarkan pilihan yang lebih luas dan membuka wawasan baru dalam memahami Islam dengan lebih rasional. Semangat melawan Kristen dan peradaban Barat yang menyertainya ditiupkan dengan penuh semangat dan diterima dengan hangat oleh pendengar dan pembaca artikelnya dibeberapa mass media yang berbahasa Indonesia dan Belanda, misalnya Het Geheim van het bestaan, karya Kwaja kamaluddin yang diteremahkan Sudewo ke dalam bahasa Indonesia, Rahasia Hidu. Kemudian Moeslimse Reveil, sebuah majalah bulanan berbahasa Belanda dari organisasi Studenten Islam Studiclab. Begitu pula dalam majalah Het Licht yang memuat tulisan Sudewo tentang nasionalisme.

Dengan demikian, pandangannya tentang keagamaan yang bercorak rasional itu, dari satu sisi dapat menjadi faktor penunjang pengembangan Ahmadiyah.

  1. Militansi Tokoh Ahmadiyah

Rahmat Ali dalam rangka menarik simpati masyarakat agar mereka yakin bahwa dalam paham yang disampaikannya adalah benar mengadakan pengajian dan menyusun buku dengan judul Izhhraul Haq. Berkat kegigihannya di tengah ancaman dan tantangan kalangan masyarakat Islam Padang, khususnya dari para ulama, berdirilah cabang ahmadiyah.

Tokoh Ahmadiyah lain yang militan adalah wali Ahmad Baig. Ia merupakan tokoh Ahmadiyah aliran Lahore yang datang ke Indonesia untuk kepentingan penyebaran paham Ahmadiyah.

  1. Penerbitan dan Penerjemahan Buku Ahmadiyah

Ajaran yang disampaikan melalui publikasi, termasuk melalui tokoh seperti Wali Ahmad Baig bagi Ahmadiyah Lahore, mampu membuktikan kebenaran dan ketinggian agama Islam serta mampu membangkitkan kecintaan mereka. Contohnya, tafsir The Holy Qur’an karangan Maulana Muhammad ali yang mengandung interpretasi ilmiah dan historis yang mampu membuat mereka berani ber-hujjah dengan orang Kristen dan Yahudi. Dengan tafsir baru itu, pemikiran Ahmadiyah berhasil menarik minat kaum terpelajar Indonesia dan dunia. 

 

  1. Sikap Pemerintah yang Netral

Gerakan Ahmadiyah sendiri sebagai gerakan keagamaan yang masuk ke Indonesia tahun 1924, pandangannya tentang jihad dinilai tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Menurut Ahmadiyah, jihad dalam bentuk perang sudah tidak sesuai lagi. Jihad untuk masa kini lebih tepat dengan pena atau dengan lisan. Oleh karena itu doktrin yang dimunculkan adalah Ahmadiyah harus taat dan setia kepada pemerintah tempat mereka berada. 

  1. Faktor-Faktor Penghambat Perkembangan
    1. Kontroversi Bidang Teologi

Pandangan Ahmadiyah dalam bidang teologi yang sekaligus menjadi doktrin Ahmadiyah ternyata masih sulit diterima mayoritas umat Islam Indonesia di Sumatra maupun di Jawa. Bahkan, selalu mendatangkan perdebatan yang tidak pernah selesai. Dengan demikian, doktrin-doktrin teologis seperti masalah kenabian, wahyu, Al-Masih, dan Al-Mahdi yang dipandang kontroversial dengan pemahaman mayoritas umat Islam dapat menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan Ahmasiyah di Indonesia.

  1. Kelonggaran Organisasi

Secara organisatiris, cabang-cabang terbentuk setelah terbentuknya Pengurus Besar. Berbeda dengan Ahmadiyah. Dengan tidak ketatnya penerapan struktur organisasi, perubahan nama dan Anggaran Dasar serta lambatnya status badan hukum, secara tidak langsung menjadi kendala dalam pengembangan Ahmadiyah saat itu.

  1. Masuknya Muhammad Sabitun ke PKI

Dalam kaitannya dengan partai politik, ia masuk menjadi anggota Partai Komunik Indonesia (PKI). Sebagai seorang tokoh agama dan mubaligh, melalui partai tersebut ia ingin mengislamkan orang-orang komunis, termasuk warga Cina. Menurut Abul Hasan, salah seorang pengurus Ahmadiyah cabang Wonosobo sekaligus muris Muhammad Sabitun, apa yang dilakukan sabitun mempunyai dampak tidak keci. Banyak warga Ahmadiyah yang kemudian juga ikut menjadi anggota PKI, terutama warga Ahmadiyah di daerah Wonosobo.

Partai tersebut sebenarnya bertentangan dengan prinsip dan tujuan Ahmadiyah, di samping dalam perkembangannya merupakan partai terlarang di Indonesia. Dengan demikian, apa yang dilakukan Muhammad sabitun merugikan Ahmadiyah itu sendiri.

 

  1. Ahmadiyah dan Gerakan Keagamaan yang Lain

Ahmadiyah di Indonesia sebagai orgaisasi keagamaan terdapat kesamaan dengan organisasi keagamaan lain, yaitu pemusatan perhatian pada bidang keagamaan. Ahmadiyah lebih menekankan bidang dakwah yang penyebarannya melalui pengajian, penerbitan, dan melakukan debat (bagi Ahmadiyah Qadian), dan pengajian serta penerbitan termasuk penerjemahan (bagi Ahmadiyah Lahore). Adapun muhammadiyah memusatkan perhatian pada bidang sosial, termasuk pendirian sekolah dan rumah sakit. PERSIS lebih mengutamakan penerbitan majalah dibandingkan dengan cara penyiaran yang lain, baik ceramah maupun pengajian-pengajian. Sedangkan NU dalam tablighnya menekankan masalah ibadah.

Di samping memiliki dokrin yang kontroversial, adanya organisasi keagamaan lain yang juga menawarkan ide-ide keagamaan mereka membuat Ahmadiyah dalam penyebarannya memiliki gerak yang sangat terbatas dan kurang laku. Maka wajar sekali dalam perkembangannya terbesar sangat lambat dan memiliki pengikut yang sangat sedikit. Apalagi kalau dibandingkan dengan organisasi keagamaan yang lain.

  1. Kontribusi  Terhadap geraakan Modern Islam

Ahamadiyah baik Qadian maupun Lahore, memiliki pandangan tentang jihad dengan jalan damai, yakni setia kepada pemerintah. Dengan demikian, dalam bidang politik, Ahmadiyah tidak akan menentang Pemerintah dan selalu loyal. 

Peninggalan yang paling menonjol adalah bahwa Ahmadiyah baik Qadian maupun Lahore telah meningglakan senjata yang bagus bagi umat Islam, setidak-tidaknya dalam apologi. Jusuf wibisono SH, anggota PSII yang juga anggota Muhammadiyah dan salah seorang rekan-rekannya yang dahulu aktif dalam JIB mengatakan bahwa “Ahmadiyah (Lahore) banyak sekali meninggalkan kaya monumental”. Ia sendiri mengaku, meskipun tidak pernah menjadi anggota gerakan tersebut, ia ikut mempropagandakan agar buku-buku Ahmadiyah banyak dibaca orang lain karena bisa menenangkan pikiran. Dan tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa pada saat itu pikiran-pikiran cendekiawan Ahamadiyah, khususnya aliran Lahore telah sedemikian saja merupakan satu bagian tak terpisahakan dari pemikiran Islam mutakhir, khususnya dari kalangan cendekiawan muda Islam berpendidikan Barat.

Bab IV

Kesimpulan

 


[1] H.j. Benda, Perspektive Islam di Aisa tenggara, Ter. Azyumardi Azra (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1989), hlm. 69-70

[2]  ibid

[3] Sir Muhammad Iqbal, Islam dan Ahmadiya, ter. Machun Husain (Jakarta: PT Bumi Restu, 1991), hlm, VII.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: