Gerakan Ahmadiyah di Indonesia

Desember 2, 2013

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Ahmadiyah sebagai sebuah gerakan keagamaan lahir di india pada abad ke-19 dengan latar belakang kemunduran umat Islam India di belakang agama, politik, ekonomi, sosial, dan bidang kehidupan lainya, terutama setelah pecahnya revolusi India tahun 1857 yang berakhir dengan kemenangan Inggris sehingga India dijadikan sebagai salah satu koloni Inggris yang terpenting di Asia.

Akan tetapi, dalam perkembanganya, secara intelektual reformisme India memainkan pengaruh yang tidak dapat abaikan. Tulisan Amir Ali dan Maulana Muhammad Ali, jika tidak termasuk Muhammad Iqbal meski jarang diakui sebagi sumber spiritual bagi kaum reformis Indonesia, sumber tidak bisa dibiarkan begitu saja.[1] lagi meskipun uasaha dakwah gerakan Ahmadiyah India, khususnya Ahmadiyah Lahore yang di bawa ke Jawa oleh Mirza Wali Ahmad baiq (1924), secara angka jauh dari berhasil, Al-Qur’an terjemahan Ahmadiyah bertindak sebagai suatu sumber ilham dan bahkan peniruan dari beberapa muslim terkemuka Indonesia.[2]

Di samping sebagai ajaran, Ahmadiyah juga merupakan gerakan keagamaan yang dipimpim oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di Qaidan, Punjab, India.[3] Gerakan yang lahir tahun 1888 ini oleh kalangan sunni ortodoks dianggap menyimpang ari ajaran Islam sebenarnya.

Ajaran-ajaran yang umumnya dianggap menyimpang terutama mengenai tiga hal, yakni penyaliban Nabi Isa a,s., al-Mahdi (Imam Mahdi) yang di janjaikan akan muncul di akhir jaman, dan tentang kewajiban berjihad. Mengenai penyaliban Nabia Isa a.s., Ahmadiyah juga berpendapat tidak meninggal di kayu salib, Nabi Isa hijrah ke Kasmis dan meninggal lebih dari usia 120 tahun.

Mengenai al-Mahdi, Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan dirinya sebagai penjelmaan Isa ibn Maryam dan Muhmammad bagi umat muslim, penjelmaan Krisna bagi umat Hindu. Kepercayaan terhadap dirinya termasuk salah satu rukun iman (bagi Ahmadiayah Qadiyan) karna datangya di awal abad ke-14 M. diramalkan oleh Nabi Muhammad sendiri, disamping itu menyatakakan dirinya menerima wahyu dari Tuhan. Alasan ke dua itulah akhirnya sebagai Nabi bagi Ahmadiyah Qadian dan Sebagai Mujaddid bagi Ahmadiyah Lahore.

Munculnya gerakan Ahmadiyah di India kemudian meyebar hampir keseluruh dunia termasuk Indonesia, yaitu aliran Qadian dan Lahore. Kedua aliran ini mempunyai perbedaaan yang mendasar, tetapi sama-sama mengacu pada Mirza Ghulam Ahmad.  Ahmadiyah di perkenalkan di Indonesia pada situasi politik, ekonomi, dan sosial keagamaan tidak menentu, yaitu sebelum tahun 1920-an.

  1. Pokok-pokok Masalah

Pokok yang menjadi perhatian ini adalah

  1. Mengapa gerakan ahmadiya di Indonesia tidak dapat di kembangkan dengan baik, seperti Muhamdiyah dan Nahdratul Ulama, khususnya pada tahun 1920-1942?
  2. Sebagai gerakan keagamaan yang telah tumbuh dan berkembang, adakah pengaruh Ahmadiyah terhadap gerakan Islam di Indonesia?
  3. Kontribusi apa yag diberikan Ahmadiyah terhadap dinamika gerakan Islam modern di Indonesia abad ke-20?

 

  1. Tujuan dan Kegunaan

Keguanaan penelitian ini secara teoritis dan praktis ialah :

  1. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi penulisan yang relative dan akurat tentang Ahmadiyahdi Indonesia.
  2. Tulisan ini diharapkan akan dapat mengungkapkan fakta-fakta sejarah baru mengenai dinamika gerakan keagamaan dan pemikiran Islam di Indonesia pada abad ke-20 dengan melihat kasus Ahmadiyah.
  3. Hasil kajian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai penyempurna terhadap penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya dan dapat dijadikanmodal dalam penelitian sejenis, baik dalam masalah sejenis maupun berbeda.

 

  1. Metodologi

Kajian ini menggnakan pendekatan sejarah yang bertumpu pada empat kegiatan pokok, yaitu :

  1. Heuristik, kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau
  2. Kritik (Sejarah), menyelidiki apakah jejak-jejak tersebut asli, baik bentuk maupun isinya
  3. Interpretasi, menetapkan saling hubung antar fakta yang diperoleh
  4. Penyajian, menyampaikan sintesis yang diperoleh dalam satu bentuk kisah sejarah.

 

  1. Sumber Penelitian

Sumber penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas sumber primer dan sekunder. Sumber primer terdiri atas :

  1. Dokumen ahmadiyah berupa kongres atau rapat, buku kenang-kenangan, laporan tahunan, atau buku majalah yang diterbitkan ahmadiya, dan otobografi yang diterbitkan tokoh-tokohyang terlibat dalam Ahmadiyah.
  2. Wawancara mendalam dengan pimpinan tokoh-tokoh organisasi yang masih hidup.
  3. Dokumen resmi pemerintah yang berkaitan dengan kehiatan Ahmadiyah.

 

  1. Teknik pengumpulan data dan analisis data

Data yang di kumpulkan melalui studi kearsipan dan kepustakaan. Setelah terkumpul diadakan penilaian dengan menggunakan kritik intern dan ekstern yang menyangkut kritik interprestasi positif dan negatif untuk menilai reliabilitas dan juga sifat representative data. Data yang sudah dinilai kemuadia di analisis dengan pendekatan ilmu sosial dan agama yang disusun berdasarkan preodesasi, lalu dibuat kategori permasalahanya yang memungkinkan interpretasi dan sudut tinjauan baru tentang Ahmadiyah antara tahun 1920-1942. Data yang diperoleh dari studi lapangan dengan teknik wawancara dipergunakan sebagai pembanding untuk menambah data yang diperoleh melalui studi kearsipan dan kepustakaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

  1. Islam di India Masa Penjajahan Ingris

India yang berpenduduk mayoritas hindu dan Budha pernah dikuasai sebelas dinasti Islam, yaitu dinasti Ghaznawiyah (997-1186 M.) sampai dinasti Mughal (1526-1605 M.) selama kurang lebih delapan setengah abad. Menutrut Nazaruddin Siddiqi, sejarah Islam di India sejak pemerintahan Yamin ad-Daulah Mahmud (998-1030 M.) di India juga selalau terjadi peperangan untuk merebut kekuasaan sehingga India senantiasa menghadapi perubahan penguasa. Kekuasaan dinasti Ghazanawi dipatahkan oleh pengikut-pengikut Ghaur Khan yang berasal dari suku bangsa Turki. Mereka masuk ke India tahun 1175-1206 M. Lalu India jatuh ke tangan Qutbuddin Aybak yang selanjutnya menjadi pendiri dinasti Mamluk India (1206-1316 M). Kemudian berturut-turut ke tangan dinasti Khalji (1296-1316 M.), dinasti Tughluq (1320-1413 M.), dan dinasti lain sampai Barbur datang pada permulaan abad ke-16 dan membentuk kerajaan Mughal di India.

Ada tiga kerajaan besar yang menguasai India. Kerajaan Mughal (1526-1858 M.) yang berpusat di Delhi, kerajaan Turki Usmani (1300-1922 M.) yang berpusat di Istambul, dan kerajaan Safawi (1501-1732 M.) yang berpusat di Persia.

Ketiga kerajaan islam itu mengalami kemunduran yang akhirnya membawa kehancurannya. Kerajaan Usmani terpukul di Eropa, kerajaan Safawi dihancurkan oleh bangsa Afghan, sedangkan daerah kekuasaan kerajaan Mughal diperkecil oleh raja-raja India. Sejak saat itu, kekuatan politik militer Islam menurun. Sementara itu, Eropa dengan kekayaan-kekayaan yang diangkut dari Amerika dan Timur Jauh semakin bertambah kaya dan maju.

Mughal adalah suatu kerajaan islam yang berkuasa di India. Kerajaan ini didirikan oleh keturunan Timur Lenk, Zainuddin Babur (1484-1530 M.) pada tahun 1256 M. Kedatangannya ke anak benua asia ini dicatat dala sejarah dengan membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat dan peradaban India, terutama dalam bidang literatur dan arsitektur. Keperkasaan yang dimiliki Babur dalam berperang telah diturunkan kepada generasi penerusnya sehingga kerajaan yang dibangunnya mengalami kejayaan selama satu setengah abad. Dengan ambisi yang kuat dari raja-raja Mughal, semua kerajaan kecil yang ada di India, baik yang dipimpin Islam sebagai peninggalan dinasti Ghasnawi (seperti Khalji, Tughluq, dan Lodi) meupun kerajaan Hindu, dipersatukan dan tunduk dibawah kekuasaan kerajaan Mughal di Delhi.

Masa kejayaan kerajaan ini sebenarnya cukup lama, yakni 332 tahun. Tetapi hanya dapat dipertahankan selama 181 tahun, yakni sampai masa pemerintahan Aurangzeb (1658-1707 M.) . Meskipun sejak zaman Babur sampai Aurangzeb tidak pernah lepas dari peperangan dan perebutan kekuasaan, kerajaaan Mughal tidaklah melemah. Hal ini disebabkan terutama sekali, karena kualitas kepemimpinan para sultan yang menguasai kerajaan ini. Terutama seperti Akbar 1 dan Aurangzeb berhasil mengantarkan kerajaan Mughal ke puncak kejayaannya.

Pada masa Aurangzeb yang bergelar Alamghir, terjadi pemberontakan-pemberontakan dari golongan Hindu. Pemberontakan Sikh dipimpin Guru Tegh Bahadur, Kemudian Guru Gobin Singh. Golongan Rajput juga mengadakan pemberontakan di bawah pimpinan raja Udaipur, sedangkan golongan Maratha dipimpin Sivaji dan anaknya, Sambaji. Sepeninggal Aurangzeb, pemebrontakan semakin gencar dan kuat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau golongan-golongan Hindu yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mughal mengambil sikap menentang.

Islam hadir di India dibawa oleh orang Arab, Persia, Turki dan berkuasa selama kurang lebih delapan setengah abad. Hal itu memberi pengaruh, sedikit demi sedikit banyak yang beralih agama ke agama Islam, walaupaun jumlahnya tidak mayoritas. Setelah beratus tahun dan turun-temurun menganut agama Islam, mereka terbawa dalam pertentangan dan persaingan ynag keras antara aliarn, mazhab, dan golongan Islam yang mereka anut, seperti:

  1. Golongan Syi’ah dengan golongan Sunni. Golongan Sunni menganggap glongan Syi’ah keluar dari Islam.
  2. Aliran Mu’tazilah dengan Asy’ariah dan Maturidiah
  3. Kaum Sufi dengan kaum Syari’ah
  4. Pengikut satu mazhab fiqh dengan pengikut mazhab lain.

Sementara itu, paham keagamaan yang mereka anut membawa pengaruh juga pada sika dan perilaku keberagamaan mereka, misalnya:

  1. Sikap statis yang membawa taqlid kepada pendapat dan penafsiran ulama-ulama tertentu.
  2. Sikap tidak kritis yang membawa mereka membiarkan keyakinan dan ibadah mereka bercampur dengan ajaran dan tradisi masyarakat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran dan tradisi Islam, seperti ajaran Hindu dan Budha.
  3. Sikap konservatif yang membawa mereka menentang penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa bukan Arab, seperti bahasa Persia atau Urdu.

Disamping itu mereka terbiasa meminum khamr, menghisap candu, dan melacur. Kebanyakan umat Islam malas datang ke masjid sehingga banyak masjid yang kosong. Sementara itu, Inggris, Portugis, Prancis, dan Belanda telah memasuki India Sejak abad ke-15 M. untuk kepentingan perdagangan dan pendudukan. Lama-kelamaan berubah untuk kepentingan penjajahan, seperti yang dibuktikan Inggris ketika menghancurkan dinasti Mughal pada tahun 1857 dan menjajah sampai tahun 1947 M.

Keadaan India semakin memburuk terutama setelah terjadi pemberontakan Munity di tahun 1857. Perkembangan situasi dan kondisi umat Islam di India sangat menyedihkan, terutama pada abad ke-18 M. Umat Islam pemikirannya statis, sedangkan perilaku dan sifatnya konservatif. Keadaan seperti ini menyadarkan pemimpin-pemimpin Islam India untuk mengkaji dan mencari solusi atas masalah itu. Dalam situasi seperti ini terjadilah gerakan pembaharuan. Dalam gerakan intelektual ada tiga tokoh utama India, yaitu Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, dan Muhammad Iqbal yang dianggap banyak berperan dalam gerakan ini, meskipun sebenarnya Syah Waliyullah dan beberapa yang lain, seperti Mirza Gulam Ahmad dengan Ahmadiyyahnya, tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Pembaruan di India sebenarnya sudah dimulai sebelum periode modern, yaitu sejak pertengahan abad ke-18 M. oleh seorang ulama terkenal, Syah Waliyullah (1703-1762 M.). Pembaruan ini kemudian dilanjutkan puteraya, Syah Abdul Aziz (1746-1823 M.), dan dilanjutkan lagi oleh murid Abdul Aziz dan Sayyid Ahmad Syahid yang memimpin gerakan Mujahidin di India dan wafat dalam pertempuran melawan pasukan Sikh. Ide-ide pembaruan yang dilakukan Syah Waliyullah adalah sebagai berikut:

  1. Bidang Politik

Ide pokok dalam bidang ini adalah mengembalikan kejayaan Islam dan umat Islam sebagai suatu kekuatan dengan sistem seperti yang telah dipraktikkan oleh Khulafa ar-Rasyidin yang demokratis dan dibentuk melalui musyawarah.

  1. Bidang Pengajaran Islam

Ide pokok dalam bidang ini adalah menegakkan kembali ajaran islam yang sejati dengan jalan kembali kepada Al-Quran dan Hadist. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakmurnian ajaran Islam yang dipraktikkan umat islam, yaitu:

  1. Bercampur dengan ajaran nonmuslim

Keyakinan umat islam harus dibersihkan dari adat istiadat dan ajaran-ajaran Hindu. Sumber asli ajaran Islam hanyalah Al-Quran dan Hadits. Jika ingin mengetahui ajaran-ajaran Islam sejati, orang Islam harus kembali ke kedua sumber itu, bukan ke buku-buku tafsir, fiqh, ilmu kalam, dan sebagainya.

  1. Sikap dan cara berfikir statis

Sikap taqlid, yaitu ikut dan patuh pada penafsiran dan pendapat ulama-ulama di masa lampau. Sikap inilah yang berkembang di kalangan ulama di India pada masa itu mendrong ke arah kondisi umat Islam yang statis. Dalam kondisi demikian, wajar kalau tidak terjadi perkembangan pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat Islam dalam mengahadapi kemunduran umat Islam.

Berdasarkan pengalama dan sejarah umat Islam India serta hasil studi dan anaisis yang dilakukan sayyid Ahmad Khan, maka muncullah ide-ide pembaruannya. Ide-ide pembaruan tersebut antara lain:

  1. Umat Islam India Mundur karena mereka tidak engikuti perkembangan zaman. Dasar peradaban baru ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Kekuatan dan kebebasan akal. Secara umum manusia memiliki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya.
  3. Pendapat ulama di masa lampau tidak semuanya harus ditaati, karena ada yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern.
  4. Bekerja sama dengan Inggris, hal ini akan membuat orang Islam memperoleh kemajuan di bidang politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Ide-ide pembaruan tersebut dianut dan disebarluaskan oleh murid serta pengikutnya. Timbullah apa yang dikenal dengan gerakan Aligarh, yang berpusat di sekolah Mohammadan Anglo Oriental Colledge (MAOC). Gerakan ini pula yang meningkatkan umat Islam India dari masyarakat yang mundur menjadi masyarakat yang bangkit menuju kemajuan yang pengaruhnya sangat terasa dikalangan intelektual Islam India.

  1. Munculnya Ahmadiyah
    1. Latar belakang

Munculnya Ahmadiyah di India merupakan serentetan peristiwa sejarah dalam Islam yang tidak terlepas dari situasi umat Islam pada saat itu, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Sejak kekalahan Turki Usman dalam serangannya ke benteng Wina tahun 1683, pihak barat mulai bangkit menyerang kerajaan tersebut, dan serangan itu lebih efektif lagi di abad ke-18. Umat Islam semakin terisolasi dengan sikap-sikap lama yang masih dipelihara. Keadaan umat Islam India ini semakin memburuk, terutama sesudah terjadinya pemberontakan Mutiny tahun 1857 M. Itulah latar belakang kelahiran Ahmadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam.

Kelahiran Ahmadiyah juga berorientasi pada pembaruan pemikiran. Di sini Mirza Gulam Ahmad yang mengaku telah diangkat Tuhan sebagai al-Mahdi dan al_Masih merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memajukan Islam denagn memberikan interpretasi baru terhadap ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan tuntunan zaman dan “ilham: Tuhan kepadanya. Motif Mirza Ghulam Ahmad ini tampaknya didorong oleh gencarnya serangan kaum misionaris Kristen dan propaganda Hindu terhadap umat Islam pada saat itu.

H.A.R Gibb memberikan komentar bahwa di India lahir satu-satunya sekte baru dalam Islam yang berhasil. Sekte itu ialah Ahmadiyah yang berawal sebagai gerakan pembaruan yang bersifat liberal dan ccinta damai dengan maksud menarik perhatian orang-orang yang telah kehilangan kepercayaan terhadap Islam dengan pemahaman yang lama. Mirza Ghulam Ahmad, menyatakan dirinya tidak hanya sebagai al-Mahdi Islam dan al-Masih bagi umat Kristen, tetapi juga sebagai Avatar (inkarnasi) Krishna. Sayangnya pembaruan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh keyakinan umat Islam yang sangat sensitif, yaitu masih adanya nabi dan wahyu yang diturunkan Tuhan sesudah Al-Quran dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad SAW. Inilah yang menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan umat Islam terhadap Ahmadiyah.   

  1. Awal Berdirinya

Sejak menerima wahyu, Mirza Ghulam ahmad menyatakan bahwa dirinya sebagai al-Masih yang dijanjikan sekaligus sebagai al-Mahdi. Akan tetapi, hal itu baru diumumkan pada awal tahun 1891. Menurut Ahmadiyah Qadian, setelah diadakan pemba’iatan tahun 1889 Mirza Ghulam Ahmad mengorganisasi para pengikutnya menjadi suatu paham baru yang merupakan bagian dari gerakan baru dalam Islam dengan nama gerakan Ahmadiyah.

Dengan demikian, ada perbedaan tahun berdirinya Ahmadiyah antara Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian. Ahmadiyah Lahore berdasarkan wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad tahun 1888, sedangkan Ahmadiyah Qadian berdasarkan pelaksanaan pembai’atann di tahun 1889. Nama Ahmadiyah menurut penjelasan dari Maulana Muhammad Ali dan Ghulam Ahmad, tampaknya bukan diambil dari satu nama pendiri gerakan itu, melainkan diambil dari salah satu nama Rasulullah. Nama itu diambil dari surat ash-Shaff ayat 6 yang isinya memuat informasi Nabi Isa a.s kepada Bani Israil bahwa sesudahnya nanti akan datang seorang nabi bernama Ahmad. Ini yang dipandang aneh. Mirza Ghulam Ahmad sendiri kemudian mengklaim nama itu menunjuk kepada dirinya yang diutus oleh Tuhan untuk menunaikan Tugas kemahdiannya. 

  1. Perpecahan di Kalangan Ahmadiyah

Saat Mirza Ghulam Ahmad masih hidup, keutuhan dan kesatuan pengikut Ahmadiyah sangat dirasakan. Suasana seperti itu berjalan sampai menjelang meninggalnya Khalifah I, Maulawi nuruddin, pengganti Mirza Ghulam Ahmad setelah ia meninggal pada 30 Mei 1908. Pada masa Maulawi Nuruddin, Ahmadiyah sebagai gerakan Mahdi telah mencapai kemajuan pesat dan mulai dikenal di kalangan umat Islam secara luas. Akan tetapi, menjelang meninggalnya, bibit perpecahan sudah mulai tampak. Menurut Mirza Bashir Ahmad, ada tiga persoalan yang menjadi ajang perbedaan pendapat di kalangan Ahmadiyah yang mengakibatkan perpecahan, yakni masalah Khilafah (pengganti pemimpin), iman kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan kenabian.

  1. Karakteristik Ahmadiyah

Ahmadiyah, selain sebagai paham, juga sebagai gerakan Islam. Ciri lain dari gerakan Ahmadiyah adalah berorientasi pada pembaruan pemikiran yang bercorak liberal. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan Ahmadiyah lebih bercorak rasional, terutama dalam kajiannya mengenai masalah akidah, seperti kajian persoalan kenabian, wahyu, penjelmaan al-Masih ibn Maryam, dan kemahdian Ahmadiyah. Tokoh ini berkeyakinan bahwa satu-satunya cara untuk mempersatukan umat beragama dan menjauhkan mereka dari sikap permusuhan hanyalah dengan membawa mereka ke dalam Islam sambil menunjukkan bukti-bukti kekeliruan mereka.

  1. Reaksi Terhadap Ahmadiyah

Awal timbulnya reaksi umat Islam khususunya dan Umat hindu serta Kristen adalah sewaktu Mirza Ghulam Ahmad mendakwahkan diri secara terang-terangan mengenai ide pembaruannya yang menurutnya atas dasar wahyu ilahi. Ide pembaruan yang dimaksud adalah kedudukannya sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan. Pernyataan bahwa dirinya sebagai Masih Mau’ud (isa a.s yang dijanjikan) diumumkan pada tahun 1891 melalui sebuah selebaran.

Pada bulan Juli 1891 dilaksanakan perdebatan antara Mirza Ghulam Ahmad (didampingin Nuruddin) dan Muhammad Husain Batalwi di Ludhiana. Materi yang diperdebatkan sekitar masalah kematian Nabi Isa a.s. Pada bulan Oktober 1891 dilakuakn perdebatan kedua dan dengan pembahasan yang sama.

Pada tahun 1893 ada reaksi dari kalangan missionaris Kristen, khususnya di Punjab. Mereka yang menentang dakwah Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Masih yang dijanjikan adalah Imaduddin, Thakur Das dan Abdullah Atham. Sebagaimana yang dilakukan tokoh Islam mereka juga menentang dengan cara berdebat.

Menurut Mirza Ghulam Ahmad, Yesus tidak meninggal di atas tiang salib, tetapi masih hidup setelah disalib dan mengadakan perjalanan ke Kashmir mengurus suku-suku bangsa Israil yang hilang di sana hingga meninggal usia 120 tahun. Dengan demikian, Yesus adalah seorang laki-laki, seorang nabi dan bukan anak Tuhan. Mirza Ghulam Ahmad adalah juga seorang nabi yang memiliki peran sejarah yang sama.

Reaksi lain muncul dari kalangan Hindu, yakni dari Arya Samaj. Semenjak awal, Mirza Ghulam Ahmad memang harus berhadapan dengan gerakan Arya Samaj yang berusaha mempertahankan kepercayaan lama dengan menekankan gagasan kembali kepada Weda. 

 

Bab III

  1. Awal Kemunculan

Secara rinci, dapat dikemukakan bahwa kedatangan Ahmadiyah Qadian di Indonesia didahului oleh kisah keberangkatan dua orang pemuda ke India, yaitu Abu Bakar ayyub dan ahmad Nurrudin. Kedua pemuda itu lulusan dari perguruan sumatra Thawalib yang dipimpin Dr. H. Abdul Karim amrullah ( Haji Rasul) di Padang Panjang. Setelah selesai mengikuti pelajaran di perguruan tersebut.

 Setelah masuk Ahmadiyah, mereka berkirim surat kepada keluarga mereka di tanah air. Mereka menginformasikan tentang biaya hidup di Qadian yang sangat murah. Bahkan, jika ingin bersekolah di sini, meski tidak mampu, akan mendapat bantuan wakaf sekolah. Atas informasi itu banyak pelajar lain yang datang ke Qadian. Pada tahun 1926, tercatat beberapa orang yang belajar di sekolah Ahmadiyah datang dari berbagai kota di Sumatra, antara lain Padang, Padang Panjang, Batu Sangkar, dan Tapaktuan, Aceh. Setibanya di sumatra mereka mendirikan perkumpulan Ahmadi Indonesia.

Maulana Rahmat Ali adalah pembawa paham Ahmadiyah Qadian ke Indonesia bersama pemuda-pemuda Indonesia yang belajar di Qadian. Oleh karena itu, Maulana Rahmat Ali dipandang sebagai perintis Ahmadiyah Qadian di Indonesia yang dalam perkembangannya menjadi sebuah organisasi dengan nama Jema’at Ahmadiyah Indonesia.

Ahmadiyah Lahore sudah lebih dulu dikenal di Jawa, tepatnya di kota Yogyakarta pada tahun 1924, setahun lebih awal dibanding Ahmadiyah Qadian yang dikenal di Sumatra. Informasi mengenai latar belakang kedatangan Ahmadiyah Lahore di Jawa tidak sejelas kedatangan Ahmadiyah Qadian di sumatra. Kedatangan dua orang mubaligh dari Hindustan, Maulana Ahmad dan Mirza wali Ahmad dipandang sebagai perintis Ahmadiyah Lahore di Indonesia tepatnya di Pulau Jawa.   

 

  1. Tokoh-Tokoh dan Struktur Organisasi

Ahmadiyah Qadian diperkenalkan ke Indonesia sejak tahun 1925 dan telah tersebar ke beberapa kota, baik di sumatra maupun di Jawa dengan beberapa cabang. Pengurus besar Ahmadiyah Qadian terbentuk pada tahun 1935 melalui konferensi yang diadakan tanggal 15 dan 16 Desember 1935.

Konferensi tersebut memutuskan membentuk pengurus besar Ahmadiyah. Pengurus tersebut terdiri dari seorang ketua, dua orang sekertaris dan empat orang anggota. Mereka yang terpilih sebagai pengurus adalah:

Ketua              : R. Moh. Muhjidin

Sekertaris I      : Sirati Kohongia

Sekertaris II    : Moh. Usman Natawidjaja

Anggota          : R. Markas Atmasamita

                          R. Hidajath

                          R. Sumadi Gandakusumah

                          R. Kartaatmadja.

Berbeda dengan Qadian, gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia secara struktural tidak memiliki hubungan dengan Ahmadiyah yang berpsat di Lahore, Pakistan. Ahmadiyah Lahore pada hakikatnya bukan merupakan organisasi yang ketat.

Pada tanggal 5 Juli 1928 Pengurus Besar Muhammadiyah mengirimkan maklumat ke seluruh cabang yang isinya melarang mengajarkan ilmu dan paham Ahmadiyah di Lingkungan Muhammadiyah. Dengan keluarnya maklumat ini, tiap-tiap orang yang mengikuti ajaran Ahmadiyah harus menentukan pilihan, tetap di Muhammadiyah atau membuang ajaran Ahmadiyah.

Djojosugito maupaun Muhammad Husni sebagai pihak yang pro-Ahmadiyah dibawah tekanan perasaan memilih Ahmadiyah. Mereka diberhentikan dan dipecat dari Muhammadiyah. Tindakan demikian diberlakukan pula kepada Muhammad Kusban, Sutantyo, Supratolo. Mereka mencari wadah lain untuk beraktivitas. Akhirnya, pada tanggal 10 Desember 1928 mereka membentuk Indonesische Ahmadiyah Beweging atau Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Centrum Lahore) disingkat GAI.

 

  1. Daerah Penyebaran dan Metode Penyebaran

Penyebaran paham gerakan Ahmadiyah pada masa akhir pemerintah kolonial Belanda, terutama pada tahun 1924 sampai dengan tahun 1942 – Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore – masih sangat terbatas. Ahmadiyah Qadian telah tersebar di beberapa kota Sumatra dan Jawa, sedangkan Ahmadiyah Lahore hanya terbatas di Pulau Jawa, khususnya Yogyakarta dan sekitarnya.

  1. Sumatra

Tenaga Mubaligh yang dimiliki ahmadiyah relatif sangat sedikit. Mereka yang dipandang sebagai mubaligh inti hanyalah Maulah]na Rahmat Ali dari Hindustan yang dibantu beberapa tenaga yang pernah belajar beberapa tahun di Madrasah Ahmadiyah Qadian. Mereka sebagian berasal dari Sumatra Barat. Dapat dikatakan bahwa munculnya Ahmadiyah di berbagai kota di wilayah Sumatra dibawa oleh orang-orang Padang, terutama melalui perdagangan oleh karena itu, Ahmadiyah di wilayah sumatra meskipun muncul, perkembangannya sangat lamban dan keanggotaannyapun tidak dapat diketahui dengan jelas, khususnya pada akhir pemerintah kolonial Belanda.

  1. Jawa

Selanjutnya, pada tahun 1931 Rhmat Ali meninggalkan kota Padang, Sumatra Barat, menuju Jawa. Daerah yang pertama kali dituju Rahmat Ali di Jawa tahun 1931 adalah Batavia sebagai kota paling ramai di Jawa yang setelah kemerdekaan Indonesia menjadi ibu kota negara. Selanjutnya adalah kota Bogor. Selain Jakarta dan Bogor, Ahmadiyah juga berkembang di daerah Garut, tepatnya di daerah Priyangan dan Tasikmalaya.

Di Jawa, selain di wilayah Jawa Barat, Ahmadiyah Qadian juga berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur walaupun tidak sepesat di Jawa Barat. Khususnya di Jawa Tengah, sebelum Ahmadiyah qadian diperkenalkan di Indonesia, pada tahun 1924 Ahmadiyah Lahore telah diperkenalkan di Indonesia oleh dua orang mubaligh dari ahmadiyah Centrum Lahore, yaitu Maulana Muhammad dan Mirza Ahmad Baig.

Berbeda dengan Ahmadiyah qadian, daerah penyebaran Ahmadiyah Lahore hanya terbatas di wilaah pulau Jawa. Selain karena tujuan Mirza Wali ahmad Baig ke Jawa untuk menyaingi kristenisasi di Pulau Jawa, hal ini mungkin juga disebabkan keberadaan ahmadiyah Qadian yang lebih dulu tersebar di luar Jawa karena tidak ada pengikutnya Ahmadiyah Lahore yang pergi atau pindah dari pulau Jawa.

Adapun yang menjadi daerah-daerah penyebaran paham Ahmadiyah Lahore di Jawa ialah:

  1. Yogyakarta

Suatu hal yang menarik dan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kota Yogyakarta, tempat kelahiran Muhammadiyah dan seklaigus menjadi basis penyiaran Islam, adalah pusat penaburan benih Ahmadiyah Lahore. Di tengah-tengah Muhammadiyah inilah gerakan ahmadiyah Lahore Indonesia lahr dengan dimotori oleh mantan aktivis Pengurus Besar Muhammadiyah, R. Ng. Minhadjurrahman Djojosugito dan Muhammad Husni. 

  1. Purwokerto

Ahmadiyah Lahore mulai dikenal di Purwokerto sejak berdirinya Gerakan Ahmadiyah Indonesia Centrum Lahore pada tahun 1928. R. Ng. Djojosugito selaku ketua gerakan Ahmadiyah saat itu masih bertugas sebagai guru di Purwokerto. Bahkan, sebelumnya ia juga menjadi ketua cabang Muhammadiyah Purwokerto. Meskipun bukan kota kelahiran Ahmadiyah, koya ini menjadi pusat kegiatan Ahmadiyah karena banyak tokohnya yang tinggal di Purwokerto. Mirza Wali ahmad Baig sendiri akhirnya pindah ke Purwokerto sebelum ke Jakarta. Hampir semua kegiatan muktamar pada masa pemerintahan kolonial Belanda berlangsung di Purwokerto, termasuk muktamar pertama pada tahun 1929. Pada waktu itu dibentuk pula cabang Purwokerto dengan ketua Kiai Ma’ruf. Cabang lain yang juga telah terbentuk adalah Purbolinggo yang diketuai KH. Ahmad Sja’rani, cabang di Pliken diketuai KH. A. Abdurrahman, Surakarta diketuai Muhammad Kusban, dan Yogyakarta diketuai R. Supratolo.

 

  1. Wonosobo

Masuknya Ahmadiyah di daerah Wonosobo tidak lepas dari peran Muhammad Sabitun, putera kelahiran Tanjungsari, Desa Binangun 25 km dari kota Wonosobo. Ia adalah salah seorang murid Wali Ahmad Baig yang ikut menempuh studi di Lahore. Sebelumnya, ia sekolah di mambaul ‘Ulum Djasaren Surakarta bersama Muhammad Irsyad dari Purwokerto. Setelah itu, Muhammad Sabitun pindah ke Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta. Baru pada tahun 1924, setelah mengenal Mirza Wali Ahmad Baig dia meneruskan sekolah ke Lahore.

Ahmadiyah Qadian lebih berhasil sebagai organisasi sektarian di Indonesia, sedangkan Ahmadiyah Lahore lebih berpengaruh sebagai suatu aliran pemikiran melalui kaum elit pelajar di Jawa yang ide-idenya membaur di sebagian kalangan masyarakat Islam.

  1. Faktor-faktor penunjang dan Penghambat Perkembangan
    1. Fator-faktor Penunjang Perkembangan
      1. Pendekatan Rasional pada Islam

Pemikiran-pemikiran keagamaan yang diajarkan Ahmadiyah menawarkan pilihan yang lebih luas dan membuka wawasan baru dalam memahami Islam dengan lebih rasional. Semangat melawan Kristen dan peradaban Barat yang menyertainya ditiupkan dengan penuh semangat dan diterima dengan hangat oleh pendengar dan pembaca artikelnya dibeberapa mass media yang berbahasa Indonesia dan Belanda, misalnya Het Geheim van het bestaan, karya Kwaja kamaluddin yang diteremahkan Sudewo ke dalam bahasa Indonesia, Rahasia Hidu. Kemudian Moeslimse Reveil, sebuah majalah bulanan berbahasa Belanda dari organisasi Studenten Islam Studiclab. Begitu pula dalam majalah Het Licht yang memuat tulisan Sudewo tentang nasionalisme.

Dengan demikian, pandangannya tentang keagamaan yang bercorak rasional itu, dari satu sisi dapat menjadi faktor penunjang pengembangan Ahmadiyah.

  1. Militansi Tokoh Ahmadiyah

Rahmat Ali dalam rangka menarik simpati masyarakat agar mereka yakin bahwa dalam paham yang disampaikannya adalah benar mengadakan pengajian dan menyusun buku dengan judul Izhhraul Haq. Berkat kegigihannya di tengah ancaman dan tantangan kalangan masyarakat Islam Padang, khususnya dari para ulama, berdirilah cabang ahmadiyah.

Tokoh Ahmadiyah lain yang militan adalah wali Ahmad Baig. Ia merupakan tokoh Ahmadiyah aliran Lahore yang datang ke Indonesia untuk kepentingan penyebaran paham Ahmadiyah.

  1. Penerbitan dan Penerjemahan Buku Ahmadiyah

Ajaran yang disampaikan melalui publikasi, termasuk melalui tokoh seperti Wali Ahmad Baig bagi Ahmadiyah Lahore, mampu membuktikan kebenaran dan ketinggian agama Islam serta mampu membangkitkan kecintaan mereka. Contohnya, tafsir The Holy Qur’an karangan Maulana Muhammad ali yang mengandung interpretasi ilmiah dan historis yang mampu membuat mereka berani ber-hujjah dengan orang Kristen dan Yahudi. Dengan tafsir baru itu, pemikiran Ahmadiyah berhasil menarik minat kaum terpelajar Indonesia dan dunia. 

 

  1. Sikap Pemerintah yang Netral

Gerakan Ahmadiyah sendiri sebagai gerakan keagamaan yang masuk ke Indonesia tahun 1924, pandangannya tentang jihad dinilai tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Menurut Ahmadiyah, jihad dalam bentuk perang sudah tidak sesuai lagi. Jihad untuk masa kini lebih tepat dengan pena atau dengan lisan. Oleh karena itu doktrin yang dimunculkan adalah Ahmadiyah harus taat dan setia kepada pemerintah tempat mereka berada. 

  1. Faktor-Faktor Penghambat Perkembangan
    1. Kontroversi Bidang Teologi

Pandangan Ahmadiyah dalam bidang teologi yang sekaligus menjadi doktrin Ahmadiyah ternyata masih sulit diterima mayoritas umat Islam Indonesia di Sumatra maupun di Jawa. Bahkan, selalu mendatangkan perdebatan yang tidak pernah selesai. Dengan demikian, doktrin-doktrin teologis seperti masalah kenabian, wahyu, Al-Masih, dan Al-Mahdi yang dipandang kontroversial dengan pemahaman mayoritas umat Islam dapat menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan Ahmasiyah di Indonesia.

  1. Kelonggaran Organisasi

Secara organisatiris, cabang-cabang terbentuk setelah terbentuknya Pengurus Besar. Berbeda dengan Ahmadiyah. Dengan tidak ketatnya penerapan struktur organisasi, perubahan nama dan Anggaran Dasar serta lambatnya status badan hukum, secara tidak langsung menjadi kendala dalam pengembangan Ahmadiyah saat itu.

  1. Masuknya Muhammad Sabitun ke PKI

Dalam kaitannya dengan partai politik, ia masuk menjadi anggota Partai Komunik Indonesia (PKI). Sebagai seorang tokoh agama dan mubaligh, melalui partai tersebut ia ingin mengislamkan orang-orang komunis, termasuk warga Cina. Menurut Abul Hasan, salah seorang pengurus Ahmadiyah cabang Wonosobo sekaligus muris Muhammad Sabitun, apa yang dilakukan sabitun mempunyai dampak tidak keci. Banyak warga Ahmadiyah yang kemudian juga ikut menjadi anggota PKI, terutama warga Ahmadiyah di daerah Wonosobo.

Partai tersebut sebenarnya bertentangan dengan prinsip dan tujuan Ahmadiyah, di samping dalam perkembangannya merupakan partai terlarang di Indonesia. Dengan demikian, apa yang dilakukan Muhammad sabitun merugikan Ahmadiyah itu sendiri.

 

  1. Ahmadiyah dan Gerakan Keagamaan yang Lain

Ahmadiyah di Indonesia sebagai orgaisasi keagamaan terdapat kesamaan dengan organisasi keagamaan lain, yaitu pemusatan perhatian pada bidang keagamaan. Ahmadiyah lebih menekankan bidang dakwah yang penyebarannya melalui pengajian, penerbitan, dan melakukan debat (bagi Ahmadiyah Qadian), dan pengajian serta penerbitan termasuk penerjemahan (bagi Ahmadiyah Lahore). Adapun muhammadiyah memusatkan perhatian pada bidang sosial, termasuk pendirian sekolah dan rumah sakit. PERSIS lebih mengutamakan penerbitan majalah dibandingkan dengan cara penyiaran yang lain, baik ceramah maupun pengajian-pengajian. Sedangkan NU dalam tablighnya menekankan masalah ibadah.

Di samping memiliki dokrin yang kontroversial, adanya organisasi keagamaan lain yang juga menawarkan ide-ide keagamaan mereka membuat Ahmadiyah dalam penyebarannya memiliki gerak yang sangat terbatas dan kurang laku. Maka wajar sekali dalam perkembangannya terbesar sangat lambat dan memiliki pengikut yang sangat sedikit. Apalagi kalau dibandingkan dengan organisasi keagamaan yang lain.

  1. Kontribusi  Terhadap geraakan Modern Islam

Ahamadiyah baik Qadian maupun Lahore, memiliki pandangan tentang jihad dengan jalan damai, yakni setia kepada pemerintah. Dengan demikian, dalam bidang politik, Ahmadiyah tidak akan menentang Pemerintah dan selalu loyal. 

Peninggalan yang paling menonjol adalah bahwa Ahmadiyah baik Qadian maupun Lahore telah meningglakan senjata yang bagus bagi umat Islam, setidak-tidaknya dalam apologi. Jusuf wibisono SH, anggota PSII yang juga anggota Muhammadiyah dan salah seorang rekan-rekannya yang dahulu aktif dalam JIB mengatakan bahwa “Ahmadiyah (Lahore) banyak sekali meninggalkan kaya monumental”. Ia sendiri mengaku, meskipun tidak pernah menjadi anggota gerakan tersebut, ia ikut mempropagandakan agar buku-buku Ahmadiyah banyak dibaca orang lain karena bisa menenangkan pikiran. Dan tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa pada saat itu pikiran-pikiran cendekiawan Ahamadiyah, khususnya aliran Lahore telah sedemikian saja merupakan satu bagian tak terpisahakan dari pemikiran Islam mutakhir, khususnya dari kalangan cendekiawan muda Islam berpendidikan Barat.

Bab IV

Kesimpulan

 


[1] H.j. Benda, Perspektive Islam di Aisa tenggara, Ter. Azyumardi Azra (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1989), hlm. 69-70

[2]  ibid

[3] Sir Muhammad Iqbal, Islam dan Ahmadiya, ter. Machun Husain (Jakarta: PT Bumi Restu, 1991), hlm, VII.

Biography

Desember 2, 2013

Gambar

Name                             : Bambang Prakoso. S.Sos

Place, Date of Birth     : Pacitan, 04 Juli 1986

Religion                         : Islam

Status                            : Single

Address                         : JL. Larangan Kenjeran III/85b Surabaya

Phone Number              : 085655489680

Email                             : bambangprakoso33@yahoo.co.id

Web                               : bambangprakosolibry.wordpress.com

 

I came from a simple family lived in the southern tip of East Java that is a beautiful city surrounded by hills, mountains, and beaches that is Pacitan City. My father’s name is Alm. Rokim Mulyo. He was a Police Pensioner, he left our family when I was child, in that time I still in elementary school. My father comes from Pakis Jajar, Malang, East Java. My mother, Sarti, she is an extraordinary woman, very egalitarian but also authority in certain matters. She is a mother and also as father for three of her children, a single parent and work harder so that can paid her children’s Scholl, including me up to the level of S2 / Pasca Sarjana. Mother comes from Tegalombo, Pacitan, East Java.

Formal Education:

Public Elementary School 4 Pucangobo, Pacitan in the year 1994 – 1999, PGRI Junior High School in the year 1999-2002, Public Vocational School 1 Pacitan in the year 2002-2005, Diploma 3 Majoring of Library Technician Unair University in the year 2007-2010, then I transfered to Bachelor Program of  Wijaya Kusuma University, Surabaya in the year 2011-2013, and now I take Magister Program at Public Islamic University of Sunan Kalijaga, Jogjakarta, majoring of Interdisciplinary Islamic Studies, Library and Information Science Department.

Organization :

The chairman of Religious Department of HIMA on Majoring of Library Technician, UNAIR Surabaya in the year 2008 – 2009, member of IB (Insan Baca) Community Surabaya in the year 2008 – 2009, Public Relation of DPD East Java, HMPII (Himpunan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia) in the year 2008-2009, Public Relation of Studi Center at Information and Library Science Department UNAIR in the year 2008 – 2009, the chairman of KCP (Komunitas Cinta Pustaka), UNAIR in the year 2008-2010, the coordinator of Community Service of  HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Wijaya Kusuma University Surabaya in the year 2011-2012. The coordinator of Friends of Library on SMK Negeri 10 Surabaya in the year 2011 until now. The member of 1001 Books Community, East Java in the year 2012 until now and the coordinator of KLJ (Komunitas Literasi Jawa Timur), a monthly routine discussion of cross-community in East Java, especially in Surabaya City.

Career :

Library staff of SMK Negeri 10 Surabaya, in the year 2010-2011, The Library Chairman of  SMK Negeri 10 Surabaya in the year 2011-2013. Has thought School Library, Local Content, Office Administration Program at SMK Negeri 10 Surabaya.

Entrepreneurship in the field of Library Science and Library Development (Library Consultant) :

I want to make my own CV, but is constrained by the place, because of the licensing of business establishment it should have its own place of domicile. Even though it is not legal I try to offer the proposal of the Library Service and Development to some institutions, especially school library. The following is the institutions I’ve worked on with my team. Reading Room Development (Otomasi) SCDIP Unair, Procession and Automation on International Relation Department Unair, Procession and Automation on Communication Science Department Unair, Automatization Development on Economic Academy Surabaya, School library development on Madrasah Aliayah Negeri Surabaya, and library development of SMK Negeri 10 Surabaya.

Appreciation :

I have been awarded both of institutions and individuals: a letter of appreciation and trophy of first winner on the School Library Contest on the level of Surabaya City, and second winner School Library Contest East Java Level in the year 2011 – 2012.

TUGAS : KETERAMPILAN SOSIAL DALAM KONTEKS KEPUSTAKAWANAN “Peran Pustakawan”

November 26, 2013

 

Pendahuluan

Pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh  melalui pendidikan formal atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan  perpustakaan.

Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh seseorang dalam melaksanakan keprofesionalan.

Profesi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejujuran, dsb) tertentu. Profesional artinnya bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya; mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Sedangkan profesionalisme berarti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan cirin suatu profesi atau orang yang professional.

Untuk menguatkan bahwa pustakawan adalah sebagai jabatan fungaional tentunya memerlukan  sertifikasi. Sertifikasi asal katanya dari sertifikat yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai surat tanda atau surat keterangan (pernyataan tertulis) atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti suatu kejadian. Sertifikat pustakawan adalah surat bukti kpmpetensi pustakawan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Proses kebijakan dan pelaksanaan untuk mengeluarkan sertifikat dapat disebut sertifikasi.

Profesi pustakawan saat ini masih dipandang sebagai profesi kelas dua. Anggapan itu  tidak hanya muncul dari luar pustakawan (eksternal), tetapi juga berasal dari internal (pustakawan) sendiri. Pandangan dari luar pustakawan ini misalnya, mereka mengatakan bahwa pustakawan tugasnya hanya melayani peminjaman/pengembalian buku, menata buku di rak, dan tempat orang-orang kurang berprestasi. Hal ini lebih disebabkan citra/image perpustakaan sebagai tempat yang kumuh, tempat orang-orang buangan, dsb. Sedangkan dari pustakawan sendiri, rata-rata mereka kurang memahami pedoman/peraturan kepustakawanan. Mereka tidak paham tentang satuan pekerjaan, kurang paham tata cara penghitungan angka kredit, kurang mengetahui proses pengajuan pangkat, dan masih terkonsentrasi pada kegiatan yang bersifat rutin dan teknis. Adanya kesenjangan pustakawan di kota dan di pelosok desa-desa/daerah terpencil utamanya pustakawan yang bekerja pada perpustakaan daerah juga merupakan tantangan bagi pustakawan.

 Peran Pustakawan Indonesia sebagai anggota profesi, tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Perpustakaan modern yang pertama kali ada di Indonesia yang didirikan oleh orang Belanda. Perpustakaan tersebut adalah perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap didirikan pada tahun 1778. Seabad kemudian  di Indonesia mulai berdiri berbagai perpustakaan khusus, menyusul pendirian perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum oleh pihak swasta pada awal abad ke-20. Jauh hari sebelum Indonesia Merdeka upaya pembentukan paguyuban pustakawan telah dirintis. Usaha pembentukan organisasi pustakawan mulai dirintis pada tahun 1912 dengan dilangsungkannya diskusi pustakawan di Batavia. Usaha ini baru membuahkan hasil pada tahun 1916 dengan dibentuknya Vereeniging tot Bevordering van het Bibliotheekwezen di Batavia. Namun usaha ini tidak dapat berjalan dengan mulus, selama pendudukan Jepang organisasi pustakawan tidak berkembang dan boleh dikata mengalami kemandegan. Hal ini berlangsung sampai pada tahun 1950-an, baru pada empat tahun kemudian (1954) berdiri Perkumpulan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia disingkat PAPSI. Pada tahun 1962 nama organisasi tersebut diubah menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi disingkat APADI. Tahun 1969 berdiri Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia disingkat HPCI. Pada tahun 1973 di Ciawi dilangsungkan Kongres Pustakawan se Indonesia dan terbentuklah Ikatan Pustakawan Indonesia disingkat  (IPI). Keberadaan  IPI hingga saat ini masih aktif dengan berbagai program dan aktivitasnya.

  Pustakawan sebagai salah satu anggota masyarakat tidak dapat lepas dari aktivitas individual dan aktivitas sosial. Pustakawan sebagai makhluk individual, mempunyai hubungan dengan dirinya sendiri, adanya dorongan untuk mengabdi  kepada dirinya sendiri. Pustakawan sebagai makhluk sosial, adanya hubungan pustakawan dengan sekitarnya, adanya dorongan pada pustakawan untuk mengabdi kepada masyarakat pemustaka. Pustakawan sebagai makhluk berKetuhanan atau makhluk religi adanya hubungan pustakawan dengan Sang Pencipta, adanya dorongan pada pustakawan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, kekuatan yang ada di luar dirinya.

Karena pustakawan sebagai makhluk individual, maka dalam tindakan-tindakannya pustakawan kadang-kadang menjurus kepada kepentingan pribadi. Namun karena pustakawan juga sebagai makhluk sosial, dalam tindakan-tindakannya pustakawan juga sering menjurus kepada kepentingan-kepentingan masyarakat.

 

Rumusan masalah

Dari uraian  tersebut di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.      Apakah pustakawan sudah melaksanakan tugas-tugasnya secara professional?

2.      Sejauh mana peran pustakawan sebagai anggota profesi?

3.      Bagaimana peran pustakawan sebagai makhluk sosial di perpustakaan?

 

Pembahasan

1.      Pengertian

Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007, Pasal 1, menyebutkan bahwa Pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh  melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan  dan pelayanan perpustakaan. Kompetisi menjadi kata kunci pertama dalam definisi tersebut karena siapa pun dia, asal memiliki kompetensi dan bekerja di perpustakaan tanpa memandang perpustakaan negeri atau swasta dapat masuk menjadi pustakawan. Bagi pustakawan negeri pun seharusnya juga menyambut gembira akan hal ini. Menurut Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005, Pasal 1, Ayat 10 dijelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh seseorang dalam melaksanakan keprofesionalan. Kata kunci kedua  adalah bekerja di perpustakaan baik perpustkaan negeri atau swasta. Seseorang sekali pun memiliki komptensi dengan dilengkapi keterampilan dan keahlian jika tidak bertugas di perpustakaan tidak dapat disebut sebagai pustakawan. Seseorang memiliki kompetensi, mempunyai keterampilan dan keahlian, bekerja di perpustakaan  itu saja tidak cukup untuk disebut sebagai seorang pustakawan, akan tetapi seseorang harus mampu mengumpulkan Angka Kredit dengan jumlah tertentu sesuai dengan jenjang pangkat/jabatannya dan dalam jangka waktu tertentu (maksimal 5 tahun).

Sedangkan menurut Aanggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pustakawan Indonesia (AD ART IPI), Pasal 1, Pustakawan adalah pegawai yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan pada unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi baik di instansi pemerintah maupun swasta.

Dalam pasal 1 AD ART IPI tersebut lebih dijelaskan dengan  tegas bahwa pustakwan yang dimaksud tidak terbatas pada pegawai perpustakaan pemerintah, akan tetapi juga pegawai perpustakaan yang bekerja di lembaga/intansi swasta.

 

2. Jenjang Jabatan, Pangkat/Golongan Ruang, Angka Kredit, dan Tunjangan Jabatan Fungsional Pustakawan

Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 25, Keputusan MENPAN Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 dan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 23 Tahun 2003, Nomor 21 Tahun 2003 bahwa :

(1) Pustakawan Pelaksana, pangkat Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b sampai dengan Pustakawan Penyelia pangkat Penata, golongan ruang III/c dan Pustakawan Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang  III/a sampai dengan Pustakawan Utama, pangkat  Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d, dibebaskan sementara dari jabatannya, apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak menduduki jabatan/pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi.

(2) Pustakawan Penyelia, pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang III/d, dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam setiap tahun sejak diangkat dalam jabatan/pangkatnya tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) dari kegiatan kepustkawanan dan atau pengembangan profesi.

(3) Pustakawan Utama, pangkat Pembina Utama, golongan ruang IV/e dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam setiap tahun sejak diangkat dalam jabatan/pangkatnya tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) dari kegiatan kepustkawanan dan atau pengembangan profesi.

Pustakawan akan diberhentikan penuh dari jabatannya apabila tidak memenuhi syarat-syarat, sebagaimana yang diatur dalam pasal 27, Keputusan MENPAN Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 dan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 23 Tahun 2003, Nomor 21 Tahun 2003:

a.       Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1), tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi;

b.      Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) dan ayat (3), tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan.

 

Seperti yang diatur dalam pasal 25  tersebut jabatan pustakawan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok jabatan Pustakawan Tingkat Terampil dan kelompok jabatan Pustakawan Tingkat Ahli. Jabatan Pustakawan Tingkat Terampil adalah pustakawan yang diangkat pertama kali mempunyai pendidikan serendah-rendahnya Diploma II Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi atau yang sudah disetarakan. Nama/sebutan Pustakawan Tingkat Terampil adalah: Pustakawan Pelaksana: golongan II/b angka kredit 40, golongan II/c angka kredit 60, golongan II/d angka kredit 80; Pustakawan Pelaksana Lanjutan:  golongan III/a angka kredit 100, golongan III/b angka kredit 150; dan Pustakawan Penyelia: golongan III/c angka kredit 200, golongan III/d angka kredit 300. Pustakawan tingkat terampil ini diangkat pertama kali akan menduduki golongan/ruang II/b (Pengatur Muda Tk. I) dan maksimal akan menduduki jabatan Pustakawan Penyelia golongan/ruang III/d (Penata Tk. I).

Pustakawan tingkat ahli adalah pustakawan yang diangkat pertama kali mempunyai pendidikan serendah-rendahnya Sarjana Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi atau yang sudah disetarakan Sedangkan sebutan nama jabatan  bagi Pustakawan tingkat ahli adalah: Pustakawan Pertama yang memiliki golongan III/a angka kredit 100, golongan III/b angka kredit 150;  Pustakawan Muda yang memiliki golongan III/c angka kredit 200, golongan IIId angka kredit 300, Pustakawan Madya yang memiliki golongan IV/a angka kredit 400, golongan IV/b angka kredit 550, golongan IV/c angka kredit 700; dan Pustakawan Utama yang memiliki golongan IV/d angka kredit 850, golongan IV/e angka kredit 1050.

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Bidang Kegiatan dan Tugas Pokok Pustakawan

a. Bidang kegiatan pustakawan meliputi:

Unsur Utama, tediri atas:

1) Pendidikan

2) Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi,

3) Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi,

4) Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi,

5) Pengembangan Profesi

 

Unsur Penunjang, antara lain terdiri dari:

1)      Mengajar

2)      Melatih,

3)      Membimbing mahasiswa dalam penyusunan skripsi, thesis dan disertasi yang berkaitan dengan ilmu  perpustakaan, dokumentasi dan informasi,

4)      Memberikan konsultasi teknis sarana dan prasarana perpustakaan, dokumentasi dan informasi,

5)      Mengikuti Seminar, lokakarya dan pertemuan sejenisnya di bidang kepustakawanan,

6)      Menjadi anggota organisasi profesi kepustakawanan,

7)       Mendapat pengharagaan/tanda jasa,

8)      Memperoleh gelar kesarjanaan lainnya,

9)      Menyunting risalah pertemuan ilmiah,

10)  Keikutsertaan dalam tim penilai jabatan pustakawan.

 

a. Tugas Pokok

Tugas pokok adalah tugas pustakawan yang wajib dilakukan oleh setiap pustakawan sesuai jenjang jabatannya.

1)      Tugas pokok Pustakawan Tingkat Terampil meliputi:

a)      Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi,

b)      Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi;

2)      Tugas pokok Pustakawan Tingkat Terampil meliputi:

a)      Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi,

b)      Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi;

c)      Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Ada perbedaan tugas pokok antara Pustakawan Tingkat Terampil dengan Pustakawan Tingkat Ahli, yaitu pada bidang tugas Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Dari uraian bidang kegiatan  dan tugas pokok pustakawan tersebut, hingga saat ini masih ada   pustakawan yang belum paham/enggan untuk mengurus kenaikan pangkat atau menekuni bidang fungsional pustakawan tersebut. Dalam hal ini banyak factor yang membuat pustakawan kurang bersemangat untuk menekuni karir sebagai pustakawan. Faktor ini dapat berasal dari luar pustakawan maupun dari diri pustakawan itu sendiri. Faktor dari luar dapat terjadi misalnya jenjang birokrasi yang berliku dan belum tersedianya petugas penilai bagi pustakawan, utamanya bagi pustakawan yang bekerja di Perpustakaan Daerah tingkat Kabupaten. Dalam hal ini penulis pernah mendapatkan keluhan dari salah seorang Pustakawan lulusan Diploma 3 Ilmu Perpustakaan dan bekerja di salah satu kabupaten di Jawa Timur selama 7 tahun. Dia ini termasuk pustakawan yang penuh dedikasi dan memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang perpustakaan dan teknologi informasi, namun selama itu dia belum pernah mengurus kenaikan pangkatnya. Hal itu terjadi bukan karena dia malas, akan tetapi lebih disebabkan karena tidak adanya petugas tim penilai dai tingkat kabupaten, tetapai tim penilai adanya di tingkat propinsi, sehingga kondisi itu berakibat kurang berkembangnya bagi pustakawan tersebut. Kasus itu hanya merupakan contoh kecil yang terjadi di sekililing kita yang mungkin kasus lain masih banyak terjadi.

Sebagai ilustrasi untuk membangkitkan semangat bagi para pustakawan, berikut akan penulis ajak untuk menyimak perhitungan angka kredit  sebagai berikut. Contoh Si Fulan sebagai Pustakawan Tingkat Ahli dengan jenjang jabatan Pustakawan Muda, pangkat/golongan ruang IIId. Dia akan mengajukan kenaikan pangkat dari IIId menuju ke pangkat/golongan ruang IVa, sehingga si Fulan butuh angka kredit 100. Angka kredit 100 ini dia tidak memiliki kegiatan dari unsur pendidikan, karena kegiatan dari unsur pendidikan telah dipakai untuk kenaikan pangkat sebelumnya. Maka dia hanya mempunyai kesempatan mengumpulkan angka kredit dari kegiatan: pengorganisasian, pemasyarakatan perpustakaan, pengkajian pengembangan perpustakaan, dan pengembangan profesi serta kegiatan dari unsure penunjang.

Untuk mencari Angka Kredit 100 (seratus) maka sengaja disediakan angka kredit yang melebihi dari jumlah angka kredit yang dibutuhkan, misalnya si Fulan menyediakan angka kredit sebesar 253.79.  Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada sejumlah butir kegiatan beserta angka kreditnya yang tidak diakui oleh tim penilai. Yang terpenting adalah dari table tersebut terdapat 24 (dua puluh empat) butir kegiatan yang dilakukan oleh Saudara Fulan dari total butir kegiatan 163 (seratus enam puluh tiga) kegiatan atau hanya 14.72% dari total butir kegiatan yang tersedia. Itu artinya masih terdapat 85.28% butir kegiatan yang belum dilakukan oleh Si Fulan, sehingga sesungguhnya masih besar lagi peluang untuk dapat mengumpulkan angka kredit dan peluang untuk naik jabatan, pangkat dan golongan sangat-sangat terbuka lebar. Ilustrasi ini hendaknya dapat dipakai oleh para pustakawan untuk lebih semangat didalam mengembangkan karirnya secara profesional. Dari contoh tabel  diatas maka sesugguhnya pustakawan tersebut sudah melasanakan tugasnya secara profesional.

 

 

4. Peran Pustakawan sebagai Anggota Profesi

Peran Pustakawan Indonesia sebagai anggota profesi, sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Perpustakaan modern yang pertama kali ada di Indonesia yang didirikan oleh orang Belanda. Perpustakaan tersebut adalah perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap didirikan pada tahun 1778. Seabad kemudian  di Indonesia mulai berdiri berbagai perpustakaan khusus, menyusul pendirian perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum oleh pihak swasta pada awal abad ke-20. Jauh hari sebelum Indonesia Merdeka upaya pembentukan paguyuban pustakawan telah dirintis. Usaha pembentukan organisasi pustakawan mulai dirintis pada tahun 1912 dengan dilangsungkannya diskusi pustakawan di Batavia. Organisasi Pustakawan Indonesia mulai terlihat perannya awal abad 20, diawali oleh para guru sekolah yang menaruh minat pada perpustakaan. Beberapa guru di Batavia (kini Jakarta) menydari perlunya organisasi pustakawan sebagai wadah komunikasi antara sesama anggota. Usaha ini baru membuahkan hasil pada tahun 1916 dengan dibentuknya Vereeniging tot Bevordering van het Bibliotheekwezen di Batavia. Tujuan organisasi itu dinyatakan pada pasal 3 berbunyi sebagai berikut (Sulistyo-Basuki: 1991) :

a.       Memajukan berdirinya perpustakaan baru dan membantu perpustakaan rakyat yang telah ada, baik yang bersifat ilmiah maupun umum.

b.      Memajukan usaha sentralisasi perpustakaan.

c.       Mengusahakan peminjaman antaraperpustakaan di Hindia Belanda (kini Indonesia).

d.      Memajukan lalu lintas pertukaran dan peminjaman bahan secara internasional.

e.       Mengumpulkan dan memajukan sumber dan tugas referens.

f.       Mendirikan biro penerangan untuk kepentingan ilmiah dan dokumentasi.

g.      Mendirikan gedung untuk perpustakaan umum.

h.      Segala usaha sah lainnya yang dapat membantu tercapainya tujuan di atas.

Namun usaha ini tidak dapat berjalan dengan mulus, selama pendudukan Jepang organisasi pustakawan tidak berkembang dan boleh dikata mengalami kemandegan. Hal ini berlangsung sampai pada tahun 1950-an, baru pada empat tahun kemudian (1954) berdiri Perkumpulan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia disingkat PAPSI dengan tujuan:

a.       Mempertinggi pengetahuan ilmu perpustakaan dengan demikian mempertinggi derajat para anggotanya.

b.      Menanam rasa cinta terhadap perpustakaan dan buku pada umum. PAPSI berubah nama menjadi Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi pada tahun 1956 dengan singkatan PAPADI. Tujuan organisasi ialah:

a.       Mempertinggi pengetahuan tentang ilmu perpustakaan, arsip dan dokumentasi, serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan;

b.      Memperluas dan menanamkan pengertian terhadap perpustakaan, arsip, dan dokumentasi; dan

c.       Membela kepentingan dan mempertinggi derajat para anggotanya.

  Pada tahun 1962 nama organisasi tersebut diubah menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi disingkat APADI. Pasal 3 Anggaran Dasar APADI menyatakan bahwa APADI bertujuan:

a.       mengusahakan agar tercapai kesempurnaan siste dan isi perpustakaan, arsip, dan dokumentasi;

b.      mempertinggi pengetahuan tentang ilmu perpustakaan, arsip, dan dokumentasi dan ilmu-ilmu yang bersangkutan;

c.       memperluas dan menanam pengertian perpustakaan, arsip, dan dokumentasi; dan

d.      mempertinggi derajat para anggota

Tahun 1969 berdiri Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia disingkat HPCI bertujuan: (a) membina perkembangan perpustakaan khusus di Indonesia, dan (b) memupuk hubungan anggotanya. Pada tahun 1973 di Ciawi dilangsungkan Kongres Pustakawan se Indonesia dan terbentuklah Ikatan Pustakawan Indonesia disingkat  (IPI). Keberadaan  IPI hingga saat ini masih aktif dengan berbagai program dan aktivitasnya.

Sesuai dengan Pasal 8 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPI bertujuan untuk:

  1. meningkatkan profesionalisme pustakawan;
  2. mengembangkan ilmu perpustakaan, dokumentasu dan informasi;
  3. mengabdikan dan mengamalkan tenaga dan keahlian pustakawan untuk bangsa dan Negara RI.

Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pasal 8, IPI melakukan berbagai kegiatan:

  1. mengadakan dan ikut serta dalam berbagai kegiatan ilmiah khususnya di bidang perpustakaan, dokumentasu dan informasi;
  2. mengusahakan keikutsertaan IPI dalam pelaksanaan program pemerintah dan pembangunan nasional di bidang perpustakaan, dokumentasu dan informasi;
  3. menerbitkan pustaka dan/atau mempublikasikan pustaka bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi;
  4. membina forum komunikasi antar pustakawan dan atau kelembagaan perpustakaan, dokumentasu dan informasi.

 

Dari berbagai tujuan organisasi tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing organisasi tesrbut memiliki penekanan dalam hal pembinaan kepustakawan. Vereenigingtot Bevordering van Bibliotheekwezen lebih menekankan pada pengembangan perpustakaan secara pisik mulai dari pendirian perpustakaan baru, sentralisasi perpustakaan, peminjaman antar perpustakaan (interlibrary loan), pengembangan koleksi, meningkat pelayanan terhadap pemustaka, dan membangun gedung baru perpustakaan. Sedangkan organisasi PAPASI dan PAPADI memotivasi kepada para pelanggan untuk lebih mencintai perpustakaan dan meningkatkan kemampuan pustakawan dalam melayani pemustaka. APADI lebih menekankan pada kesempurnaan system dan isi perpustakaan. IPI lebih menekankan pada profesioanlisme para pustakawan disamping membina terhadap kemampuan intelektualitas bagi para pustakawan yang meliputi berbagai kegiatan pada bidang kepustakawanan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan Bangsa.dan Negara untuk mewujudkan  masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Pembinaan intelektualitas pustakawan tersebut meliputi pendidikan formal (D2, D3, S1, S2, dan S3) dengan berbagai pemberian bea siswa bagi  para pustakawan, kursus-kursus / diklat, seminar, lokakarya, sarasehan dan sebgainya.

Sebagai pustakawan yang professional, pustakawan memiliki tugas-tugas yang bersifat tugas keprofesian dan tugas penunjang. Tugas-tugas tersebut antara lain meliputi :

a. Pengembangan Koleksi:

       Pemilihan bahan perpustakaan (merumuskan kebijakan pengembangan koleksi, menyusun anggaran biaya pembelian bahan perpustakaan, mempelajari kebutuhan masyarakat, menyiapakan daftar bahan perpustakaan dalam bidang teetentu, mempertimbangkan permintaan nbahan perpustakaan untuk bidang tertentu,) dll.

         Pengadaan bahan perpustakaan (terdiri dari: mengendalikan anggaran biaya dengan skala prioritasnya, menjadwalkan pembelian tri wulanan, empat bulanan dan atau per semester, mengesahkan dan menyetujui kuitansi pemesanan pustaka, menentukan  dan mengawasi pencatanan serial, menilai pustaka yang sangat khusus dan langka), dll.

   Pengolahan bahan pustaka, meliputi: menentukan kebijakan  pengkatalogan dan pengklasifikasian, mengklasifikasi, mengembangkan sisetem pengklasifikasian, memberikan tajuk subjek, membuat kartu utama, menentukan entri tambahan, dll.

b. Layanan, antara lain:

  • Peminjaman: menyusun peraturan peminjaman, merancang formulir dan catatan, mengawasi koleksi tendon, menyiapkan laporan statistic,menangani kebutuhan pemustaka, dll.
  • Layanan rujukan, terdiri dari: menentukan kebijakan layanan rujukan, menjawab pertanyaan, pembimbingan mengenai cara perujukan dan menggunakan sumber rujukan, menghimpun bibliografi, membuat indeks khusus, memberikan informasi kepada pemustaka tentang buku yang berhubungan dengan minatnya, dll.
  • Perawatan bahan perpustakaan: menentukan cara dan teknik pengawetan, menentukan kebijakan penjilidan, penambahan dan penghapusan, merencanakan pengaturan rak, mengawasi prosedur penyimpanan buku dalam rak, dll.
  • Jaringan kerja sama: turut serta dalam pengkatalogan bersama,, mengawasi silang layan, mengawasi keterlibatan dalam penyusunan catalog induk dan pusat bibliografi, mengesahkan data bibliografi untuk silang layan, dll.
  • Pengembangan: menyusun rencana perpustakaan secara menyeluruh, merencanakan dan memulai kegiatan baru, menentukan cara mencatat, membuat statistic dan formulir yang diperlukan, membuat analisis pekerjaan, melatih dan mengajar jaryawan baru, membimbing peserta magang, melatih karyawan untuk meningkatkan kinerja dan pengetahuan, dll.
  • Administrasi: merencanakan anggaran, memberikan arahan tentang pemeliharaan gedung dan pekarangan, menentukan bahan habis pakai, menyiapkan laporan, mengatur penempatan karyawan, meningkatkan kesejahteraan karyawan, dll.

Sebagimana dikutip dari  Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman edisi ketiga.

 

5. Peran Pustakawan sebagai Makhluk Sosial di Perpustakaan

Pustakawan sebagai salah satu anggota masyarakat tidak dapat lepas dari aktivitas individual dan aktivitas sosial. Pustakawan sebagai makhluk individual, mempunyai hubungan dengan dirinya sendiri, adanya dorongan untuk mengabdi  kepada dirinya sendiri. Pustakawan sebagai makhluk sosial, adanya hubungan pustakawan dengan sekitarnya, adanya dorongan pada pustakawan untuk mengabdi kepada masyarakat pemustaka. Pustakawan sebagai makhluk berKetuhanan atau makhluk religi adanya hubungan pustakawan dengan Sang Pencipta, adanya dorongan pada pustakawan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, kekuatan yang ada di luar dirinya.

Karena pustakawan sebagai makhluk individual, maka dalam tindakan-tindakannya pustakawan kadang-kadang menjurus kepada kepentingan pribadi. Namun karena pustakawan juga sebagai makhluk sosial, dalam tindakan-tindakannya pustakawan juga sering menjurus kepada kepentingan-kepentingan masyarakat.

Sikap Pustawakan Indonesia mempunyai pegangan tingkah laku yang harus dipedomani: (IPI : 2007)

a.       berupaya melaksanakan tugas  sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya dan kebutuhan pengguna perpustakaan pada khususnya;

b.      berupaya mempertahankan keunggulan kompetensi setinggi mungkin dan berkewajiban mengikuti perkembangan;

c.       berupaya membedakan  antara pandangan atau sikap hidup pribadi dan tugas profesi;

d.      menjamin bahwa tindakan dan keputusannya, berdasarkan pertimbangan professional;

e.       tidak menyalah gunakan posisinya dengan mengambil keuntungan kecuali atas jasa profesi;

f.       bersifat sopan dan bijaksana dalam melayani masyarakat, baik dalam ucapan mapun perbuatan.

Dari garis-garis tersebut di atas yang harus dipakai sebagai pedoman bagi pustakawan, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian baginya, yakni menyadari pentingnya sebagai seorang pelayan yang baik bagi para nasabahnya (pemustaka), selalu meningkatkan kemampuan diri dalam setiap perkembangan. Selalu berupaya untuk mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya, penuh dengan kehati-hatian dan cermat dalam setiap mengambil keputusan. Bersikap jujur dengan selalu bersikap professional dalam mengembangkan karir, dan senantiasa berpenampilan menarik serta menyenangkan bagi siapa saja yang menjumpainya. Itulah sifat-sifat luhur yang perlu dimiliki oleh seorang pustakawan yang professional.

Untuk dapat mewujudkan sifat-sifat tersebut, maka perlu adanya jalinan hubungan yang harmonis antara pustakawan dengan pihak-pihak yang terkait, diantaranya ialah:

      Hubungan dengan pemustaka: pustakawan perlu memberikan akses yang seluas-luasnya kepada pemustaka dan bersikap adil, tanpa memandang ras, agama, status social, gender, dll. kecuali dintentukan oleh peraturan yang berlaku. Pemustaka bertanggung jawab atas informasi yang diperolehnya dari perpustakaan tanpa melibatkan pustakawan sebagai penyedia informasi. Pemustaka perlu mendapat perlindungan hak privasinya atas kerahasiaan yang menyangkut informasi yang dicari. 

         Hubungan dengan antar pustakawan. Pustakawan berusaha untuk selalu mengembangkan diri untuk mecapai keunggulan dalam profesinya dan senantiasa menjalin kerjasama antar pustakawan dalam rangka mengembangkan kompetensinya. Sebagai makhluk social pustakawan tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan pustakawan lainnya, maka saling tukar informasi mutlak diperlukan.

       Hubungan dengan perpustakaan. Pustakawan tentunya perlu ikut aktif dalam setiap perumusan kebijakan yang menyangkut kegiatan kepustakawanan. Memberikan masukan bagi pengembangan perpustakaan   yang menyangkut   kegiatan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

 Hubungan dengan organisasi profesi.  Organisasi tidak dapat begerak dengan sehat kecuali ditopang dengan dana yang cukup, maka peran aktif dari pustkawan dalam membayar iuran sangat dibutuhkan. Pustakawan mempunyai kewajiban didalam mengembangkan organisasinya yakni dengan berperan aktif dalam setiap kegiatan.

                  Hubungan dengan masyarakat. Pustakawan bekerja sama dengan anggota komunitas dan organisasi yang sesuai, berupaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan serta komunitas yang dilayaninya.

Peran pustakawan di perpustakaan sangat dominan terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat perpustakaan (pemustaka). Untuk memenuhi kebutuhan  pemustaka yang beraneka ragam,  tentunya diperlukan cara-cara yang dapat memikat bagi mereka.

 Menurut Mangkunegara::2005 kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri.  Apabila konsumen kebutuhannya tidak terpenuhi, ia akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi, konsumen akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi rasa puasnya. 

Misi perpustakaan adalah  menyebarluaskan informasi kepada pemustaka yang membutuhkannya. Koleksi perpustakaan lengkap dan  bagus, tempatnya nyaman, namun sepi pengunjung. Tentunya ini ada penyebabnya, salah satunya adalah kurangnya promosi.  Maka peran pustakawan untuk memasarkan produknya untuk memuaskan konsumen, maka sangat diperlukan promosi. Dalam hal mempromosikan   perpustakaan,   maka pustakawan perlu mengenal perilaku konsumen. 

Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan  dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam proses mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang-barang dan jasa. (Loudon dan Bitta dalam Mangkuneagara : 2005)

Perilaku konsumen adalah suatu proses yang terdiri dari beberapa tahap yaitu : (Prasetijo:2005)

o   Tahap perolehan (acquisition): mencari (searching) dan membeli (purchasing)

o   Tahap konsumsi(consumption): menggunakan (using), dan mengevaluasi (evaluating)

o   Tahap tindakan pasca beli (disposition): apa yang dilakukan oleh konsumen setelah produk itu digunakan atau dikonsumsi.

Dari kedua definisi tersebut, dapat diberikan komentar bahwa mula-mula konsumen melakukan pencarian barang/jasa yang dibutuhkan. Dalam hal pemustaka mencari (searching) dapat melalui alat bantu penelusuran (catalog perpustakaan) atau langsung menuju ke rak dimana buku tersimpan. Ketersediaan katalog yang  memadai dan susunan buku di rak secara teratur akan mempercepat proses temu kembali informasi. Jika hal ini terjadi maka kebutuhan pemustaka terpenuhi dan kepuasan akan diperolehnya. Tahap purchasing adalah keputusan yang diambil oleh pemustaka untuk meminjam koleksi dari berbagai pencarian yang dilakukan sebelumnya.

Tahap menggunakan (Using), mengevaluasi  (evaluating) dan pasca beli/pinjam (disposition)  adalah tahapan dimana pemustaka memanfaatkan atas infomasi yang diperolehnya. Pemanfaatan informasi tersebut tentunya akan berdampak pada perilku pemakainya, tergantung untuk apa   pemustaka meminjam/ mencari informasi tersebut. Apabila tujuan pinjam/ memperoleh informasi untuk keperluan studi, pengajaran, dan atau penelitian maka pemustaka akan merasa terpenuhi kebutuhannya itu.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para pustakawan, dalam hal promosi terhadap produk jasa yang milikinya, antara lain:

 

5.1. Segmentasi pasar perpustakaan. “Segmentasi pasar adalah usaha pemisahan pasar pada kelompok-kelompok pembeli menurut jenis-jenis produk tertentu dan memerlukan bauran pemasaran sendiri”. (Mangkunegara : 2005). Dalam hal ini perpustakaan dapat mengelompokkan koleksinya berdasarkan pelanggan yang dilayaninya. Misalnya pada perpustakaan umum, dapat mengelompokkan koleksinya berdasarkan kebutuhan tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi). Dapat pula dikelompokkan berdasarkan profesi/pekerjaan para pelanggan (petani, pedagang, seniman, karyawan, dll). Atau dapat juga dapat mengelompokkan berdasarkan subjeknya. Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam mengelompokkan koleksi dapat berdasarkan fakultas atau per program studi. Segementasi pasar adalah mengidentifikasi konsumen dengan kebutuhan yang sama dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu dengan menawarkan produk (koleksi perpustakaan).

Segementasi pasar bermanfaat untuk

o   Dengan cepat dapat mendeteksi kecenderungan perubahan kebutuhan para pemustaka.

o   Merencanakan ketersediaan koleksi sesuai dengan permintaan pemustaka.

o   Menentukan jenis promosi yang akan dilakukan.

 

5.2. Mempelajari perilaku konsumen. Analisis konsumen memainkan peranan penting dalam pengembangan kebijakan public. Misalnya analisis untuk meningkatkan layanan perpustakaan keliling di daerah kepulauan,  maka yang diperlukan adalah alat transportasi yang sesuai dengan wilayah itu (yaitu dengan perahu). Apabila daerah yang dilayani berupa bukit dan pegunungan sehingga untuk perjalanan darat dan laut sulit, maka yang diperlukan adalah alat transportasi udara berupa helicopter dan atau yang sejenisnya.

Dari tabel di atas  dapat diberikan uraian bahwa, produk perpustakaan yang berupa jasa informasi diawali dari seleksi kebutuhan  dari para pemustaka untuk pengadaan dokumen/koleksi.  Bagi perpustakaan perguruan tinggi didalam melakukan seleksi  akan melibatkan civitas akademika pada lembaga tersebut. Sehingga pada kolom sementasi tersebut pada kolom isu konsumen yang menyatakan “Konsumen mana yang paling tepat untuk produk kita? dan Sifat konsumen mana yang harus  digunakan untuk segmentasi pasar produk kita?” , maka aktivitas  pengadaan koleksi yang melibatkan civitas akademika sangatlah tepat. Langkah-langkah pengadaan koleksi tersebut sekaligus menjawab dari kolom Produk yang menyatakan “Produk mana yang digunakan oleh konsumen  saat ini? dan Keuntungan apa yang diharapkan konsumen dari produk tersebut?, karena diawal pengadaan koleksi para pemustaka (civitas akademika) telah dilibatkan, maka dengan sendirinya produk perpustakaan akan berguna bagi konsumennya/pemustaka. Keuntungan yang diperoleh adalah dari segi efisiensi dana dan manfaat koleksi akan mengalami tepat guna san tepat sasaran.

Untuk menjawab pertanyaan “Promosi yang bagaimana yang dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli dan menggunakan produk kita? dan Iklan yang bagaimana yang paling efektif untuk produk kita?” pada kolom promosi, maka dapat dijawab bahwa dengan menjalin bekerja sama antara dosen pengampu dan perpustakaan adalah sebagai romosi dan iklan yang efektif. Caranya adalah dosen pengampu mata kuliah memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk melakukan studi literature di perpustakaan. Konsekuensi logis yang perlu dilakukan oleh perpustakaan adalah dengan menyediakan koleksi cukup pada mata kuliah tersebut, dan menyediakan meja baca baca yang memadai.

Pertanyaan  Seberapa penting harga bagi konsumen untuk setiap pasar sasaran? dan Apa dampak dari perubahan harga terhadap perilaku pembelian? pada kolom harga, dapat diberikan  jawaban bahwa dengan ketersediaan koleksi yang memadai untuk mengerjakan tugas dari dosen tersebut tentunya akan berdampak pada mahasiswa untuk lebih gemar membaca dan sekaligus tugas untuk melakukan studi literaur dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Pada kolom distribusi yang menyatakan Dimana konsumen membeli produk ini? dan Apakah system distribusi yang berbeda akan mengubah perilaku pembelian?, pada konteks layanan perpustakaan dalam pertanyaan ini dapat dijawab bahwa kemudahan pemustaka untuk memperoleh koleksi dengan cepat, maka perlu display dokumen baru yang dikoleksi oleh perpustakaan melalui papan pameran yang dipunyai oleh perpustakaan. Informasi lain dalam bentuk daftar judul perolehan buku baru melalui lembaran tercetak juga akan lebih cepat informasi itu sampai kepada pemustaka.

 

5.3. Promosi  Perpustakaan

Promosi dimaksudkan untuk lebih mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat tentang kegiatan perpustakaan dengan berbagai sumber daya yang dimilikinya. Hal-hal yang dapat dipromosikan kepada masyarakat adalah tentang berbagai koleksi yang ada, pentingnya masyarakat gemar membaca, mengenalkan adanya teknologi informasi (misalnya dengan memperkenalkan internet dengan berbagai kelebihan dan keunikannya), dan lain-lain. Banyak hal baru di perpustakaan untuk meningkatkan layanannya, tetapi kurang dikenal oleh masyarakat.

Promosi dapat dilaksanakan dengan berbagai cara seperti melalui pameran, peragaan, penerbitan, penyebaran poster, dan pemasangan iklan dalam surat kabar dan majalah serta media lainnya. Dalam usaha ini perpustakaan menerbitkan Daftar Tambahan Koleksi, Bibliografi, Indeks Artikel, Abstrak, Buku Petunjuk Perpustakaan, Penyebaran Informasi Terpilih, Buletin Perpustakaan, Jasa Kesiagaan Informasi, Laporan Perpustakaan, dll. Usaha lain adalah mengadakan pameran buku secara berkala, baik dislenggarakan sendiri maupun bekerja sama dengan took buku, penerbit, atau lembaga lain.

Kegiatan promosi memerlukan biaya, karena itu  hendaknya direncanakan dengan cermat agar dapat diperoleh hasil yang optimal dengan biaya  yang hemat. Perpustakaan perlu mmbuat rencana anggaran tersendiri untuk promosi ini. Dengan membuat amggaran promosi pada setiap awal tahun anggaran, maka program promosi akan dapat lebih terarah dan terprogram. Anggaran promosi hendaknya dibuat terpisah dari angaraan pengadaan koleksi dan anggaran pengembangan lainnya.

Perencanaan promosi perpustakaan meliputi hal sebagai berikut:

1.      merumuskan jneis layanan yang tersedia di perpustakaan dengan jelas,

2.      menganalisis lebutuhan calon pengguna, khususnya yang berkaitan  dengan minatnya,

3.      menganalisis keadaan untuk menentukan kiat yang sesuai dengan tujuan promosi,

4.      menyediakan dana dan tenaga yang memadai, dan

5.      mengevaluasi keberhasilan usaha promosi.

 

5.4. Teknik Pendekatan untuk Mempengaruhi Pemustaka

5.4.1 Teknik Pendekatan Stimulus Respon, adalah merupakan teknik menyampaikan ide-ide atau pengetahuan tentang koleksi kepada pemustaka agar pemustaka  tertarik atau termotivasi untuk mengambil keputusan meminjam koleksi-koleksi yang disampaikan itu. Dengan kata lain perpustakaan atau pustakawan memberikan  stimulus berupa koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan kemudian diharapkan pemustaka dapat meresponnya secara positif. Misalnya seorang pemustaka menanyakan tentang buku Psikologi Sosial, maka pustakawan dapat memberikan informasi tentang judul, pengarang, garis besar isi pada setiap judul/pengarang, tahun penerbitan, dan buku yang diacu oleh dosen untuk mengajar. Kemudian pemustaka diarahkan untuk meminjam diantara alternative yang cenderung mendapat perhatian atau tanggapan positif dari pemustaka tersebut. Dengan demikian si pemustaka akan lebih mudah mengambil keputusan.

5.4.2 Teknik Pendekatan Humanistik

Teknik ini merupakan teknik pendekatan yang bersifat manusiawi. Dalam teknik ini keputusan meminjam sepenuhnya diserahkan kepada pemustaka yang bersangkutan. Perpustakaan atau pustakawan hanya lebih bersifat menyediakan berbagai koleksi dengan memberikan  informasi tentang manfaat, kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada masing-masing koleksi yang tersedia.

 5.4.3 Teknik Pendekatan Gabungan antara Stimulus-Respon dan Humanistik

Teknik ini merupakan teknik pendekatan dari hasil kombinasi antara teknik stimulus-respon dan teknik humanistic. Perpustakaan atau Pustakawan dalam menghadpi pemustaka lebih bersifat mengkondisikan perilaku yang memungkinkan pemustaka termotivasi untuk meminjam/menggunakan, namun keputusan meminjam/membaca sepenuhnya diserahkan kepada pemustaka. Misalnya koleksi yang disusun dengan berbagai bentuk yan menarik pemustaka, display pustaka disusun teratur yang memungkinkan menjadi pusat perhatian pemustaka.

5.4.4 Teknik Pendekatan dengan Komunikasi yang Persuasif

Teknik ini merupakan teknik pendekatan dengan menggunakan komunikasi persuasive melalui rumus AIDDAS: A = Attention (perhatian), I = Interest(minat), D = Desire (hasrat), DDecision (keputusan), A = Action (tindakan), dan S = Satisfaction (kepuasan).

Pertama kali perlu dibangkitkan perhatian pemustaka terhadap suatu koleksi agar timbul minatnya, kemudian dikembangkan hasratnya untuk meminjam/membaca koleksi tersebut.Setelah itu diarahkan pemustaka untuk mengambil keputusan meminjam/membaca koleksi yang sesuai dengan kebutuhannya, dengan harapan konsumen merasa puas setelah meminjam/membaca.

 

6. Proses Keputusan Pemustaka

Untuk memahami peran sikap dalam perilaku konsumen, kita harus memahami bagaimana sikap dikembangkan dan bagaimana peran yang dimainkan. Sikap dikembangkan sepanjang waktu melalui proses pembelajaran yang dipengaruhi oleh pengaruh senior terhadap yuniornya, pengaruh kelompok kawan sebaya,  dan pengalaman .

6.1 Pengaruh Senior terhadap Yuniornya

Pengaruh Senior terhadap Yuniornya  mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam keputusan peminjaman/membaca. Karena pengalaman sang senior maka si yunior akan lebih percaya tentang apa yang telah didapat dari sang kakak tersebut.

6.2 Pengaruh Kelompok Kawan Sebaya

Banyak studi yang memperlihatkan bahwa kawan sebaya (seangkatan) mampu mempengaruhi dalam perilaku pemustaka. Kazt dan Lazarsfeld dalam Setiadi (2008) yang dikutip Assel (1992) menemukan bahwa peer group lebih memungkinkan mempengaruhi sikap dan perilaku peminjaman/membaca daripada iklan. Anak-anak usia belasan tahun (remaja) sering melakukan peminjaman/membaca terhadap suatu buku/koleksi karena pengaruh teman sekolahnya telah meminjam buku itu.

6.3 Pengalaman

Pengalaman masa lalu mempengaruhi sikap terhadap merek. Pengalaman penggunaan suatu merek produk pada masa lalu akan memberikan evaluasi atas merek tersebut, bergantung apakah pengalaman itu menyenangkan atau tidak. Jika pengalaman masa lalu itu menyenangkan maka sikap pemustaka di masa mendatang akan positif, tetapi jika pengalaman pada masa lalu itu tidak menyenangkan maka sikap pemustaka di masa mendatang pun akan negatif.

 

7.  Kesimpulsn

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa:

7.1 Pustakawan Indonesia belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pustakawan yang professional, karena pada kenyataannya masih terdapat kesenjangan bagi para Pustakawan Indonesia, terutama pustakawan yang bekerja pada Perpustakaan Daerah tingkat II (Kabupaten). Pada perpustakaan tersebut  belum tersedia adanya tim penilai pustakawan, adanya di tingkat propinsi .

7.2 Pustakawan Indonesia sebagai anggota profesi telah berperan besar dalam pengembangan perpustakaan di Indonesia, sejak jaman penjajah Belanda – hingga sekarang kepustakawan di Indonesia dapat berkembang secara signifikan berkat peran dari para pustakawan kita. Adanya Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Nasional/Daerah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus ini adalah hasil perjuangan dari para Pustakawan Indonesia.

7.3 Pustakawan sebagai makhluk sosial di perpustakaan memiliki peran yang sangat  penting terhadap pengembangan perpustakaan. Pengembangan tersebut  meliputi pengembangan koleksi, pengembangan sarana dan prasarana, serta pengembangan untuk meningkatkan minat baca pemustaka. Salah satu peran pustakawan dalam meningkatkan minat baca adalah dengan cara menganalisis perilaku pemakai dan mempromosikan produk jasa informasi perpustakaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

  1. Departemen Pendidikan Nasional RI. 2004. Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman, edisi ketiga. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
  2. IPI. 2007. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga disertai Kode Etik Ikatan Pustakawan Indonesia.
  3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua.
  4. Indonesia. 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14, Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
  5. Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43, Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.
  6. Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2005. Perilaku Konsumen edisi revisi. Bandung : Refika Aditama.
  7. Perpustakaan Nasional RI. 2003. Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, Keputusan MENPAN Nomor: 132/KEP/M. PAN/12/2002 dan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor: 23 Tahun 2003; Nomor: 21 Tahun 2003.
  8. Perpustakaan Nasional RI. 2006. Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya dengan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 10 Tahun 2004, tanggal 30 Maret 2004.
  9. Prasetijo, Ristiyanti dan Ihalauw, John J.O.I. 2005. Perilaku Konsumen. Yogyakarta : Andi.
  10. Presiden Republik Indonesia. 2007. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pustakawan.
  11. Setiadi, Nugroho J. 2008. Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta : Kencana.
  12. Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakaarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
  13. Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Andi

 

Terjemahan The Assertive Librarian

November 26, 2013

GAMBARAN SEJARAH PENDIDIKAN PROFESI

Pendidikan dan pelatihan pustakawan Amerika terkait dengan berkembangnya pendidikan profesi dan  perkembangan ekonomi tentunya.  Sebagai catatan dalam bab misi dan nilai dalam perpustakaan (bab7), perpustakaan awal amerika terlihat kecil dan relative sederhana. Di sebagian perpustakaan, mereka hanya memiliki beberapa staf perpustakaan dan hanya dijadikan sebagai penjaga perpustakaan. Pustakawan yang memiliki pendidikan perpustakaan lahir pada abad ke-19. Mereka biasanya ditemukan di lembaga akademik yang sangat canggih dan kebayakan dari mereka adalah laki-laki. Sehingga digambarkan sebagai  “Bookmen” “laki-laki buku” oleh Pierce Butler (1951) di dalam sejarah keprofesiannya, karena mereka memiliki jenjang pendidikan sarjana bukan teknisi. Pustakawan pada masa itu sangat sedikit.

Sampai pada tahun 1850 tidak ada yang berbicara mengenai pelatihan untuk pekerja perpustakaan  kecuali mereka yang dipekerjakan untuk percobaan dan yang bermasalah. Salah satu cara yang dilakukan adalah mengikuti contoh yang ada. Kadangkala pustakawan pemula menghubungi  pustakawan yang sudah berpengalaman sebagai pemberi saran dan konsultan mereka. Pelatihan awal, magang, mungkin baru muncul dipertengahan tahun 1850 dan 1875. Magang adalah pelatihan bagi mereka melalui pengalaman praktis dari orang yang sudah berpengalaman. Seorang pustakawan ada pada seseorang yang menyukai perpustakaan dan orang-orang yang bekerja di perpustakaan .

Salah satu cara lain dalam mengembangkan ke profesionalitasan  adalah dengan memiliki informasi publikasi dari penerbit swasta, pemerintahan USA, atau dari ALA.  Penerbit mingguan , masih menjadi andalan di dalam dunia perpustakaan, mulai dari tahun 1872. Meskipun itu berfokus kepada industry penerbitan, tetapi ada bagain kecil yang dikhususkan untuk pustakawan. Publikasi utama yang memberikan dukungan yang luar biasa untuk pelatihan perpustakaan adalah American Library Journal. Yang didirikan pada tahun 1876 sebagai orgsn resmi yang dibuat oleh ALA, jurnal ini  (yang sekarang berganti nama Library Journal) adalah jurnal yang pertama mengkhususkan dirinya tertarik kepada pustakawan dan artikel yang dipublikasikan, resume prosiding konferensi ALA, dan pada bagian itu berjudul “Notes dan Queries”, yang memberikan tanggapan mengenai pertanyaan dan komentar dari pustakawan. Banyak pertanyaan yang disampaikan yaitu mengenai cataloging, klasifikasi, sirkulasi, pembangunn perpustakaan, peralatan perpustakaan, dan dana untuk perpustakaan. Library Journal diisi dengan saran yang ditujukan untuk pustakawan pemula. Di dalam edisi pertama, Justin Windsor , editor dan direktur dari perpustakaan umum Boston, menulis sebuah artikel mengenai saran yangn diberikan untuk pustakawan baru/pemula dalam mempelajari manajemen perpustakaan. Di akhir tulisannya ia merekomendasikan bahwa pustakawan baru: 1) letakan materi mengenai kepustakawanan secara terbuka 2) kunjungi perpustakaan yang sama dan tanyakan mengenai peraturan dan laporan mereka, 3) pelajari bahan/bahan atau materi yang kamu terima 4) mengevaluasi sejauh mana perpustakaan lain adalah perbandingan yang baik untuk perpustakaan yang bersangkutan, 5)menghubungi seorang pustakawan yang berpengalaman dan 6)  melakukan hal-hal yang datang secara alami “bisa diartikan sebagai melakukan hal yang sesuai dengan hati kita, tanpa paksaan, mungkin bgt” (Windsor 1876). Dia juga memperingatkan kepada pemula bahwa jika dia tidak memiliki waktu untuk melakukan penelitian dan analisis ini kemudian dia harus “menyerahkan jabatanmu kepada orang yang mampu melaksanakan hal tersebut…” (Windsor 1876, p.2)

Sumber yang sangat signifikan dari publikasi untuk pustakawan diterbitkan oleh The U.S. Bureau Education, yang memproduksi publikasi untuk pendidik. Publikasi yang paling signifikan mempengaruhi pendidikan perpustakaan adalah the bureau’s landmark study yang diterbitkan tahun 1876, perpustakaan umum di USA: sejarah mereka, keadaan, dan management. Hal yang paling mendasar dari data yang diterima menunjukkan bahwa lebih dari 3600 perpustakaan umum dan terdapat didalamnya data dengan tipe perpustakaan yang lain. Sebagai bagian dari pekerjaan ini, bureau menerbitkan panduan yang termasuk didalamnya artikel yang ditulis oleh ahli kepustakawanan. Topic ini terdiri dari  management, administrasi, sejarah, cataloging, popular reading (minat baca), dan gedung perpustakaan. Pada dasarnya, itu merupakan hak dari pengunjung perpustakaan (pembaca) (perpustakaan umum 1876). Hal Ini yang menunjukkan bahwa masih jarang literature yang diproduksi dan masih sedikit untuk adanya pelatihan formal kepustakawanan. Kelangkaan pelatihan ini tercermin dari sedikitnya perpustakaan yang ada dan kegunaan yang potensial dari perpustakaan dan pustakawan yang sedikit yang ada di kalangan masyarakat.

Dari periode 1876 sampai 1923 adalah waktu yang sangat kritis dan kompleks dalam pembangunan perpustakaan, dan ada berbagai kekuatan yang bekerja yang menciptakan dasar bagi profesionalisasi kepustakawanan. Diantaranya mengikuti:

Kemunduran dari model pendidikan inggris klasik dan Apprenticeship(magang) dan munculnya model pendidikan teknis.

selama abad ke-19 pendidikan amerika pada umumnya di dominasi oleh orang-orang imigran seperti inggris. Model pembelajaran ditekankan kepada bahasa klasik, agama, kesusastraan dan tata bahasa. Dengan adanya revolusi industri, model pelatihan yang digunakan harus berubah. Perubahan ini perlu dilakukan karena menjelaskan bahwa di dalam lingkungan perusahaan (perpustakaan) membutuhkan pelatihan yang lebih efisien daripada pendekatan tradisional. Di dalam pendekatan tradisional yang dirancang untuk melatih seseorang membuat kerajinan , hanya beberapa orang yang dapat mengikuti pelatihan tersebut. Dengan adanya industrialisasi, banyak orang dilatih di posisi yang diperlukan oleh pabrik atau perusahaan sama seperti di pabrik-pabrik lainnya. Pendidikan yang dilakkukan harus mengakomodasi orang banyak dan memberikan pendekatan yang umum, menggunakan prinsip yang umum dalam bekerja dan melatih pekerjaan yang dibutuhkan. Pendidikan dahulu/ klasik sudah tidak tepat, dan mempelajari keterampilan juga sudah tidak efisien. Munculnya sekolah teknik dan sekolah kejuruan dari lembaga-lembaga pendidikan yang tentunya membutuhkan sebuah perpustakaan. Paparan model pendidikan teknis eropa diberikan di berbagai pameran internasional dan eksposisi di eropa,USA, dan beberapa perpustakaan utama, Diantara yang lain, mereka hadir dalam acara tersebut sehingga menemukan model yang menarik (white 1976)

 

Tugas Manajemen Perpustakaan dan pusat Informasi “Biografi Tokoh”

November 26, 2013

Tugas
Manajemen Perpustakaan dan pusat Informasi
“Biografi Tokoh”

Tokoh Pustakawan Indonesia

 

Satuan kerja: Pusat Dokumentasi dan informasi Ilmiah Indonesia(Jakarta – Gatot Subroto)

Pendidikan :

– Sarjana Muda Fisika (BSc), FIPA – UGM,  Yogyakarta, 1973
– Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu, USA, 1979

Pengalaman :

1970 – 1973 Asisten Laboratorium Fisika Dasar UGM.
1973 – 1976 Staf Urusan Servis Teknis PDIN
1976 – 1977 Kepala Urusan Servis Pembaca  PDIN
1978 – 1979 Menyelesaikan MLS di Unversity of Hawaii, Honolulu, USA
1979 – 1980 Kepala Urusan Servis Teknis PDIN
1980 – 1987 Kepala Pusat Perpustakaan PDIN
1987 – 1990 Kepala Bidang Sarana Teknis PDII-LIPI
1990 – 2001 Kepala PDII-LIPI
2001 –  Pustakawan Madya PDII-LIPI
1980 – Pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu Pengetahuan   Budaya Universitas Indonesia.

2002 – sekarang Pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pajajaran.

  Kegiatan : Meberikan Kuliah Umum

  Kemampuan bahasa : Inggris (aktif) Jawa (aktif)

  Status kepegawaian : PNS 

 (1 Maret 1974 – 2 Februari 2012)

  Golongan : IV/c Pembina Utama Muda (Pustakawan Madya)

  Situs pribadi : http://www.facebook.com/blasius.sudarsono

 

Blasius Sudarsono, kebanyakan orang meyebut Pak Dar, (lahir di Solo, Jawa tenggah, 02 Februari 1948; umur 65 tahun, beliau tumbuh di lingkungan pendidik karena orangtuanya adalah guru sekolah dasar. Pak Dar sewaktu kecil gemar mengutak-atik barang elektronika. Bahkan pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk anak SMP sudah ia pelajari sewaktu kelas lima SD. Tidak heran apabila ia terobsesi menjadi seorang ilmuwan. Ketika lulus SMA, ia ingin belajar elektro arus lemah. Tapi karena orangtuanya menginginkannya menjadi arsitek, dicobalah mendaftar di jurusan elektro dan arsitektur ITB. Hanya diterima di jurusan elektro, ia tidak memanfaatkannya. Orangtuanya kemudian ingin memasukkannya ke sekolah elektronika milik Angkatan Laut. Tapi lantaran tak ingin menjadi tentara, tawaran inipun ditampiknya. Akhirnya kuliah di jurusan fisika murni UGM menjadi pilihannya hingga tingkat sarjana muda. Karena terlalu lama menunggu dibukanya program sarjana penuh, Pak Dar memilih bekerja di perpustakaan LIPI.

Mengawali karir sebagai staf urusan servis teknis, memberi keuntungan bagi Pak Dar karena menjadi orang yang pertama bersentuhan dengan teknologi maju dan mahal pada saat itu; komputer. Semua hal mengenai komputer dipelajari secara otodidak. Begitu juga dengan kepustakawanan yang ia pelajari dengan cara “mendengar”. Berkat ketekunannya, dalam waktu lima tahun, datang tawaran untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana ilmu perpustakaan di Amerika dengan skema beasiswa. Sepulang dari pendidikan, Pak Dar mendapat jabatan baru menjadi Kepala Urusan Servis Teknis dan menjadi pengajar di program sarjana dan pascasarjana Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. PDII-LIPI menyelenggarakan Kuliah Umum Bersama Blasius Sudarsono sejak Juli 2011 dengan tema-tema fundamental yang beragam dan bisa diikuti secara gratis oleh para pustakawan maupun pemerhati kepustakawanan.

Blasius Sudarsono adalah tokoh pustakawan yang mempunyai padangan baru mengenai kepustakawanan di Indonesia, beliau menggunakan pendekatan melalui perspektif filsafat kepustakawanan, yang belum pernah ada di Indonesia. Universitas yang mempunyai jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi seperti di UI, UGM, UNPAD, UNAIR, UWK, UB, UIN, YARSI, dll, baru di UNPAD yang ada mata kuliah filsafat kepustakwanan. Basius Sudarsono adalah cikal bakal pengajar   di Indonesia.

Pemikiran :

Menurut Pak Dar, ada 4 pilar kepustakawanan yang harus dimiliki seorang Pustakawan, yaitu:

ü  Pustakawan harus menjadi pangggilan hidup

ü   Pustakawan adalah semangat hidup (spirit of life)

ü   Pustakawan adalah karya pelayanan

ü   Dilaksanakan dengan profesional, kemauan dan kemampuan selalu beriringan

Kepustakawanan lebih dekat dengan kemampuan, memahami yang kemauan dari pada kemampuan. Ada lima sila kepustakawanan atau kemampuan pustakawan yang harus dimiliki seorang Pustakawan, yaitu :

1. Pustakwaan harus diajak untuk mampu berfikir kritis, baik dalam pengembangan teknologi maupun pengembangan informasi dan kritis terhadap kebutuhan masyarakat pengguna. 

2. Membaca. membaca sangat penting bagi pustakawan untuk mengetahui informasi-informasi maupun isu-isu yang berkembang terutama tentang perpustakaan untuk menambah pengetahuan. Membaca dalam hal ini diartikan membaca dunia.

3. Menulis, dalam arti mengenai ide, gagasaan atau pemikiran, kreatifitas, serta inovasi sehingga membuahkan tulisan yang mengandung informasi dan pengetahuan yang dapat ditularkan kepada masyarakat lain yang membutuhkan.

4.  Kemampuan entrepreneur untuk dihargai. Perpustakaan adalah akumulasi dari recorder culture atau knowledge (pengembangan kebudayaan), dan tidak hanya dinilai sebatas segi finansialnya saja. 

5. Etika. Pustakawan yang baik seharusnya memiliki etika, moral, dan tingkah laku yang baik pula, sehingga dalam berkomunikasi mampu melayani pengguna dengan baik.

 

Melihat perspektif pemikiran Putu Laxman Pendit, melalui beberapa tulisan/artikel khususnya mengenai perpustakaan sekolah.

ü  Kepustakawanan Sekolah (School Librarianship) adalah keseluruhan pandangan kita sebagai bangsa, orientasi kita, sikap kita, tindakan kita, dan prasarana yang kita kembangkan untuk mendidik anak-anak bangsa menapaki peradaban baca-tulis alias literasi. Dalam artian ini, maka Kepustakawanan Sekolah tak ubahnya pendidikan itu sendiri. Seperti apa kondisi pendidikan di sebuah negeri, seperti itulah kondisi Kepustakawanan Sekolahnya; seperti apa sikap dan orientasi kita dalam literasi, seperti itulah kondisi Kepustakawanan Sekolahnya. Inilah pula yang menyebabkan urusan kepustakawanan bukan semata-mata “urusan teknis”.

ü  Negara berpenduduk ratusan juta ini memerlukan ratusan ribu sekolah dan jutaan guru. Tetapi berapa jumlah pustakawannya? Ini adalah persoalan kuantitas yang segera diikuti oleh persoalan kualitas. Dengan berbagai alasan kita juga dapat menduga, sosok guru lebih diperhatikan daripada sosok pustakawan.

ü  Beberapa negara yang mengakui sepenuhnya peran bacaan dalam pendidikan dasar telah sejak lama membentuk profesi Guru Pustakawan (Teacher Librarian). Sebuah negara bahkan mensyaratkan profesi ini berbasis pendidikan strata 2 (master) dari dua ilmu : pedagogi dan perpustakaan. Walau mungkin agak mustahil diterapkan di Indonesia, mari kita periksa konteks masyarakat yang melahirkan “mahluk” bergelar ganda ini. 

ü  Anak-anak, khususnya di usia sekolah, seringkali adalah pihak pertama yang menjadi pengguna-tetap teknologi baru di bidang informasi. Secara bercanda tetapi serius kita mengatakan bahwa istilah ‘telepon genggam’ datang dari kenyataan bahwa anak-anak di masa kini lahir dengan menggenggam telepon. Mereka terlahir sebagai digital native; penduduk asli dunia dijital —sebuah dunia di mana kita (orang tua dan kakak-kakaknya) adalah para pendatang. 

 

 

       Dampak Pemikiran :

ü  Pak Dar terus mendorong generasi baru untuk mau meneliti, menganalisis dan mengevaluasi sekaligus menuliskan ide mereka. Dan itu, masih dilengkapi dengan usaha yang penuh dedikasi : membentuk Kelompok Studi Kepustakawanan Indonesia (Kappa Sigma Kappa Indonesia), Bersaudara Menumbuh-kembangkan Kepustakawanan Indonesia. Dan juga seperti bergabungnya tiga lembaga pelestari warisan bangsa: perpustakaan, arsip dan museum dalam Lembaga Negara. merupakan pemikiran yang sangat menarik. Lalu rumusan visi Perpustakaan Nasional. yang sarat dobrakan.

ü  Banyak sekali sekolah yang mulai berbenah baik mengenai manajemen, SDM dan sarana-prasarana, yang tidak kalah penting adalah substansi perpustakaan sekolah, terasa keberadaanya dan memberikan manfaat bagi masyarakat (siswa)

 

 

      Kesimpulan

Kedua tokoh ini mempunyai padangan yang berbeda mengenai dunia kepustakawanan.  Blasius Sudarsino, menggunakan pendekatan filsafat humanis sedangkan Putu Laxman Pendit, menggunakan pendekatan filsafat ilmu. Tapi keduanya mempunyai tujuan yang sama untuk memajukan dunia kepustakawan.

 

 

 

TUGAS : SUMBER DAN PELAYANAN INFORMASI “Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Solusinya”

November 26, 2013

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Jika dilihat pada saat sekarang ini perkembangan teknologi informasi terutama di Indonesia semakin berkembang. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Banyak hal yang dirasa berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara yang berkembang sebelumnya. Saat sekarang ini jarak dan waktu bukanlah sebagai masalah yang berarti untuk mendapatkan ilmu, berbagai aplikasi tercipta untuk memfasilitasinya.

Dalam banyak bidang, teknologi informasi dan komunikasi memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya. Seiring dengan perkembangannya, di satu sisi teknologi informasi juga mempunyai dampak negatif terhadap kehidupan. Karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang dampak negatif penggunaan teknologi informasi.

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Bagaimanakah dampak negatif teknologi informasi di berbagai bidang?

2.      Bagaimanakah dampak psikologis perkembangan teknologi informasi?

3.      Apa sajakah solusi untuk mengatasi dampak negatif dari teknologi informasi?

 

C.    Tujuan Penulisan

Penulis bertujuan:

1.      Untuk mengetahui dampak negatif teknologi informasi di berbagai bidang.

2.      Untuk mengetahui dampak psikologis perkembangan teknologi informasi.

3.      Untuk mengetahui solusi dalam mengatasi dampak negatif dari teknologi informasi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Dampak Negatif Teknologi Informasi di Berbagai Bidang

1.      Bidang Politik

a)      Penggunaan persenjataan canggih untuk menyerang pihak lain demi kekuasaan dan kekayaan.

b)      Terorisme yang semakin merajalela.

c)      Kurangnya privasi suatu negara akibat kerahasiaan yang tidak terjamin dengan semakin canggihnya alat –alat pendeteksi.

 

2.      Bidang Pendidikan

a)      Kerahasiaan alat tes semakin terancam, Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet.

b)      Penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Kita tahu bahwa kemajuan di bidang pendidikan juga mencetak generasi yang berpengetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu komputer yang tinggi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbankan dan lain-lain.

 

3.      Bidang Teknologi dan Informasi

a)      Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris.

b)      Mempermudah terjadinya pelanggaran terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) karena semakin mudahnya mengakses data menyebabkan orang yang bersifat plagiatis akan melakukan kecurangan.

c)      Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention).

d)     Kecemasan teknologi. Ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer. Kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam komputer inilah beberapa contoh stres yang terjadi karena teknologi. Rusaknya modem internet karena disambar petir.

 

4.      Bidang Sosial Budaya

  1. Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani”.
  2. Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat, semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibatnya bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.
  3. ·         Pola interaksi antar manusia yang berubah dengan kehadiran komputer. Pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telepon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC) , internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (WARNET) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer.  Melalui    program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja.
  4. Carding, Karenasifatnya yang ‘real time’ (langsung),cara belanja dengan menggunakan kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyakmelakukankejahatandalambidangini. Dengansifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakanKartuKredit) on-line danmencatatkodekartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
  5. Perjudian dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ketempat khusus untuk memenuhi keinginannya.
  6. Impact on Globalization on Culture, makin menipisnya nilai – nilai budaya lokal akibat pengaruh globalisasi.  Salah satu contohsederhananya yaitu seberapa baikkah kemampuan bahasa daerah kita dibandingkan dengan bahasa asing.

 

B.     Dampak Psikologis Perkembangan Teknologi Informasi

Selain adanya dampak negatif dari teknologi informasi dan komunikasi (hi-tech communication) di berbagai bidang yang telah disinggung pada bagian sebelumnya maka sebenarnya terdapat beberapa dampak psikologis, antaranya:

1.      Kecemasan sosial terhadap suatu fenomena meningkat. Dengan adanya media komunikasi yang berteknologi tinggi maka informasi akan lebih cepat menyebar. Contohnya, informasi mengenai wabah flu burung. Sebelum adanya informasi tersebut, orang tidak takut mengkonsumsi unggas. Namun setelah adanya informasi yang menyebar dengan cepat mengenai flu burung maka kecemasan sosial terjadi, yaitu orang merasa takut untuk mengkonsumsi unggas. Begitu juga fenomena tsunami di Aceh, sehingga setiap kali gempa di beberapa daerah, orang akan mencari informasi tentang kemungkinan tsunami. Inilah yang menjadi contoh adanya kepanikan sosial (social anxiety) karena media komunikasi berteknologi tinggi yang membahana.

2.      Kebutuhan komersial masyarakat meningkat. Sebagaimana kita ketahui sebelumnya bahwa media komunikasi yang hi-tech akan mempengaruhi minat audience dan mempersuasi audience. Oleh karena itu, hal ini digunakan oleh perusahaan jasa komunikasi dan perusahaan komersial untuk memanfaatkan sifat konsumerisme masyarakat ini.

3.      Kriminalitas meningkat. Jika kita melihat tayangan di TV mengenai informasi atau film tentang kriminalitas dengan modus yang canggih maka ini sebenarnya merupakan inspirasi bagi pelaku kejahatan lainnya. Proses meniru tayangan kriminalitas ini yang dikenali sebagai modeling perilaku kejahatan. Apalagi kalau kita mencermati modus operasi kejahatan di dunia maya (internet) yang sedang marak maka seolah-olah mudah sekali melakukan kejahatan yang dibantu dengan media komunikasi berteknologi tinggi.

4.      Pemenuhan rasa ingin tahu (need of curiousity). Sudah menjadi kodrat manusia diciptakan dengan kekuatan pemikiran yang luar biasa. Pemikiran ini yang dirangsang dengan rasa ingin tahu atau penasaran yang besar. Dengan media komunikasi yang berteknologi tinggi, terjawablah rasa penasaran manusia tentang apapun itu. Semua bisa kita cari di internet dengan menggunakan kata kunci tertentu.

5.      Teknologi dapat mengurangi kreativitas. Teknologi yang menjadi alat bantu manusia menjanjikan sejuta efisiensi. Oleh karena itu, manusia akan menjadi malas karena kemajuan teknologi tersebut. Sebagai misal, aktivitas copy-paste di mahasiswa akan menjadi budaya plagiat di kemudian hari.

 

C.    Solusi untuk Mengatasi Dampak Negatif Teknologi Informasi

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan teknologi informasi di era globalisasi ini, juga menimbulkan dampak negatif yang tidak sedikit jumlahnya. Solusi untuk mengatasi dampak negatif itu diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Menegakkan fungsi hukum yang berlaku, misalnya pembentukan cybar task forte yang bertugas untuk menentukan standar operasi pengendalian dalam penerapan teknologi informasi di instansi pemerintah.

2.      Menghindari penggunaan telepon seluler berfitur canggih oleh anak-anak di bawah umur dan lebih mengawasi penakaian ponsel.

3.      Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di bawah umur yang masih harus dalam pengawasan ketika sedang melakukan pembelajaran dengan TIK. Analisis untung ruginya pemakaian.

4.      Tidak menjadikan TIK sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran, misalnya kita tidak hanya mendownload e-book, tetapi masih tetap membeli buku-buku cetak, tidak hanya berkunjung ke digital library, namun juga masih berkunjung ke perpustakaan.

5.      Menggunakan software yang dirancangkhususuntukmelindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnyasaja program nany chip atau parents lock yang dapatmemproteksianakdenganmenguncisegalaakses yang berbauseksdankekerasan.

6.      Pihak-pihak pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-pengajaran etika dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa menghilangkan etika.

7.      Televisi:

a.       Mewaspadai muatan pornografi, kekerasan dan tayangan mistis.

b.      Menghindari penempatan TV pribadi didalam kamar.

c.       Memperhatikan batasan umur penonton pada film yang telah di tayangkan.

d.      Mengaktifkan penggunaan fasilitas parental lock pada TV kabel dan satelit.

8.      Tindakan yang bisa dilakukan pemerintah:

a.       Menciptakan dan mengesahkan UU tentang hak cipta.

b.      Menyaring informasi yang masuk ke negaranya.

c.       Menciptakan dan mengesahkan UU APP.

d.      Membuat software yang mampu memproteksi situs-situs porno di internet.

e.       Menciptakan dan mengesahkan undang-undang penyiaran.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Disamping berbagai keuntungan dan dampak positifnya, teknologi informasi mempunyai dampak negatif di berbagai bidang, diantaranya adalah di bidang politik, bidang pendidikan, bidang teknologi dan informasi serta bidang sosial dan budaya. Selain dampak negatif di berbagai bidang tersebut, teknologi informasi juga mempunyai dampak psikologis bagi penggunanya. Diantaranya adalah:

1.      Privasi suatu negara dapat dengan mudah bocor.

2.      Meningkatnya plagiatisme dan kriminalitas.

3.      Kemerosotan moral masyarakat.

4.      Meningkatnya individual space.

5.      Dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.     Saran

Di era globalisasi ini, kita jangan sampai mengatakan tidak pada teknologi (say no to technology) karena jika kita berbuat demikian, maka kita akan ketinggalan banyak informasi yang sekarang ini informasi-informasi tersebut paling banyak ada di internet. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan kita terhadap teknologi, mempertimbangkan baik-buruknya teknologi tersebut dan tetap menggunakan etika, juga tidak lupa jangan terlalu berlebihan agar kita tidak kecanduan dengan teknologi.Selain itu dengan teknologi yang sederhana asal dimanfaatkan dengan maksimal, maka teknologi itu akan menghasilkan kualitas yang optimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Effendi, Ridwan, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Bandung: Prenada Media Grup. 2007
  2. http://andikajupra.blogspot.com/2010/02/dampak-negatif-dan-positif-teknologi.html
  3. http://www.scribd.com/doc/32605728/Makalah-Pengaruh-Teknologi-Informasi
  4. http://smppgri1bdl.wordpress.com/artikel-tik/dampak-negatif-teknologi-informasi-dan-komunikasi/
  5. http://masjek.com/tag/lunturnya-etika-tradisional

Apa yang di maksud teknik membaca skiming & skaning

Oktober 9, 2013

1. Teknik Membaca Skiming

Membaca skiming adalah membaca terbang dari satu halaman ke halaman buku. Menskim berarti menyapu halaman-halaman buku dengan cepat untuk menemukan sesuatu yang dicari. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh:

a. Pertanyakan dulu apa yang akan dicarai dari buku itu.

b. Dengan bantuan daftar isi/kata pengantar, carilah kemungkinan informasi yang anda butuhkan.

c. Dengan penuh perhatian, coba telusuri dengan kecepatan tinggi setiap baris bacaan yang Anda hadapi

d. Berhentilah ketika Anda merasakan menemukan kalimat atau judul yang menunjuk pada apa yang Anda cari.

e. Bacalah dengan kecepatan normal dan pahami dengan baik apa yang Anda cari.

2. Teknik Membaca Skaning

Jika Anda ingin memperoleh gagasan pokok bacaan/buku secara cepat dan efisien, teknik skaninglah yang Anda gunakan. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:

a. Lihat daftar isi dan kata pengantar secara sekilas.

b. Telaah secara singkat latar belakang penulisan buku.

c. Baca bagian pendahuluan secara singkat.

d. Cari dalam daftar isi bab-bab yang penting kemudian baca beberapa kali yang penting itu.

e. Baca bagian kesimpulan jika ada.

f. Lihat secara sekilas daftar kepustakaan dan indeks/apendiks.

La Matta Gadis Dompu

Oktober 9, 2013

Dua sahabat Gozali Fauzi biasa dipanggil Jali, asal Martapura, Kalimantan Selatan dan Ilyas Salman, asal Dompu, Sumbawa, mereka sudah membina persahabatan sejak sama-sama sebagai Pembina tenaga lapangan di daerah daerah Jepara-Kudus. Mereka hanya bersama selama dua tahun saja. Ilyas keluar dari LSM tempatnya bekerja lalu punlang kedaerah asalnya, tidak langsung ke Dompu, Ilyas menjadi dosen di Universitas Mataram. Sedangkan Jali pergi kejakarta dan memilih bekerja di suatu perusahaan yang mempunyai proyek pembibitan ikan kerapu di daerah Singaraja, Bali. Jali bekerja pada Ir. Nasuha mantan dosenya di Fakultas Perikanan, Universitas Diponegoro.

Ilyas juga sama-sama lulusan Universitas Diponegoro, hanya saja Ilyas di Fakultas Kebudayaan, jurusan Antropologi. Ketika Ilyas mejadi Dosen di Universitas Mataram ia punya pekerjaan sampingan yaitu mendirikan LSM program utamanya adalah memberdayakan Masyarakat Dompu. Mengetahui Jali bekerja di proyek perikanan, ia megusulkan megembangkan budidaya kerapu dengan system keramba. Ilyas mengusulkan pada Ir, Nasuha sebagai atasanya dan membuat studi kelayakan hasilnya positif, akhinya jadilah proyek tersebut dan jali menjadi kepala proyek. Ilyas menitipkan adiknya yang bernama La Matta, untuk bekerja di proyek yang di pimpin Jali, di bagian keuangan karena La Matta lulusan akutansi. La Matta menguasai bahasa inggris, akuntansi computer dan proyek yang di pimpin Jali membutuhkan staff keuangan seperti La Matta.

Jali merasa senang bisa bekerja di daerah pantai, di suatu dusun bernama nCumi, Jali membangun base-camp, lengkap dengan asrama karyawan, Jali juga mengajar kempo dan juga meminta seorang ustaz untuk memberikan bimbingan rohani disuarau. La Matta sendiri juga dapat bimbingan langsung dari Jali, La Mata untuk sementara ini di tempatkan di bagian keuangan tapi Jali berharap suatu ketika LA Matta bisa menjadi manager keuangan, La Matta gadis yang cerdas, cantik dan matanya yang indah membuat Jali salah tingkah, tapi Jali mehan perasaanya karena Jali sudah beristri, yang namanya Suci Hartati bekerja di BRI di Jakarta.

Kepada La Matta, Jali meminta agar menjadi ketua koprasi di komunitas perusahaan, Jali dan La Mata tampak erat berkomunikasi, La Matta mejadi kepercayaan Jali dalam manajemen keuangan, mereka juga sering makan bersama dikatin, tapi Jali selalu menjaga diri agar tidak dikesankan punya hubungan istimewa dengan La Matta. Cuma La Matta sendirilah yang justru tertarik pada Jali yang memang berkulit putih dan tampan. Jali sendiri sebenarnya juga suka pada La Matta yang cantik dan cerdas yang selalu memakai jilbab. Berkembanglah desas-desus tentang hubungan Jali dan La Matta di kalangan karyawan, tapi karyawan malah mendukung karena menganggap Jali dan La Matta adalah pasangan yang ideal. Apalagi orang Sumbawa memandang poligami adalah hal biasa, ayah La Matta mempunyai istri tiga dan Ilyas adalah saudara tirinya keluarga mereaka rukun-rukun saja, poligami sudah menjadi budaya di kalangan masyarakat Sumbawa.

La Matta menharap Jali suatu hari nanti menyatakan cinta bahkan melamarnya, walaupun menjadi istri keduanya. Tapi yang diharapku itu tak kunjung tiba, Jali menunjukan sikap biasa sebagai rekan kerja. Ini justru menabah cinta La Matta menjdi tambah menggebu-gebu. Akhirnya kesabaran La Matta menemui batasnya. La Matta putus asa terhadap cinta Jali, ketika itulah La Matta memutuskan keluar dari perusahaan dan kembali pada orang tuanya.

Keluanya La Matta membuat gempar perusahaan, hingga berkembang isu bawa La Matta hamil dan Jali yang melalkukan, tapi mereka tidak marah malah justru mereka mendukung Jali menikahi La Matta. Pada mulanya Jali tidak mendengar rumor itu sampai akhirnya terdengar di telingga Jali. Kakak La Matta, Ilyas mendatangi Jali dan menanyakan rumor yang berkembang, orang tua La Matta dan Ilyas pun mendukung mereka untuk menikah saja, Jali Ingin mengundurkan diri dari perusahaan dan La Matta bisa bekerja lagi dan menemukan jodohnya kelak. Ilyas tau kerisauan Jali karena Jali sudah beristri dan istri Jali juga sahabat ilyas, Jali tidak tidak ingin menghianati Tati istrinya, tapi perusahaan, La Matta, Ilyas dan Dompu membutuhkan Jali.

 

Ratusan Ribu PSK asal Korea Diperkirakan Serbu Olimpiade di Jepang

Oktober 3, 2013

Olimpiade 2020 telah diputuskan 7 September lalu bahwa Tokyo, Ibu Kota Jepang sebagai tuan rumah. Banyak sekali dampak dari penyelenggaraan Olimpiade tujuh tahun mendatang di Tokyo dan yang pasti Jepang sangat antusias sekali berbenah diri untuk menyambut tamu asing diperkirakan jutaan orang ke Jepang saat itu.

Di antara tamu asing itu, sebuah koran Jepang Tokyo Sports edisi 15 September menuliskan bahwa 100.000 PSK Korea diperkirakan akan datang ke Tokyo untuk ikut meramaikan kegiatan tersebut. Entahlah apa yang akan mereka lakukan tidak jelas dituliskan berita tersebut.

Yang pasti sejak awal September, Korea telah melarang masuk makanan laut Jepang. Pemerintah Korea Selatan takut dampak radioaktif di Fukushima atas makanan laut masuk ke Korea. Karena itu Senin pekan ini, Asosiasi Perikanan Jepang menemui Duta Besar Korea di Tokyo memohon agar larangan impor makanan laut Jepang dicabut karena akan berdampak  besar pada industri bisnis perikanan Jepang.

Kalau makanan Jepang dilarang masuk ke Jepang, sebaliknya sebagai hal kontras, PSK Korea akan banyak sekali yang mulai sekarang akan masuk ke Jepang dan per tahun 2020 diperkirakan koran Tokyo Sports akan mencapai sekitar 100.000 PSK Korea mencari uang di Jepang khususnya di Tokyo nantinya.

Redaktur Majalah Orenotabi, Akira Ikoma,  membenarkan hal tersebut, Menurutnya, banyak PSK Korea akan berada di daerah Uguisudani Tokyo nantinya yang terkenal sebagai daerah Deriheru atau Delivery Health atau wanita panggilan.

“Mungkin akan lebih dari 100.000 wanita PSK akan berada di Tokyo nantinta,” papar Ikoma lagi.
Selain meramaikan Olimpiade mereka juga akan mencari uang di Jepang dan kemungkinan akan semakin banyak lagi yang datang ke Jepang kalau pihak keamanan Jepang tidak melakukan monitoring dengan baik nantinya.

Selama ini, tambahnya PSK Korea banyak sekali dipasok ke Amerika, Jepang dan Australia. Mereka juga merusak harga pasar setempat dengan menawarkan harga lebih murah dari PSK Jepang. Merek umumnya melakukan operasi plastik sehingga wajahnya dan badannya menjadi sangat cantik. Selain Tokyo para PSK Korea juga akan menuju ke Osaka kota kedua terbesar di Jepang setelah Tokyo.

“Kalau di luar kedua kota tersebut, kalau di daerah, biasanya PSK Korea jarang sekali karena orang daerah biasanya loyal dengan PSK dalam negeri ketimbang dari luar Jepang,” tambahnya.

Daerah Shinjuku, Shibuya dan Ikebukuro akan ramai sekali dengan para PSK nantinya. Karena itu Ikoma berharap penertiban oleh pihak berwajib dapat semakin diperketat lagi terutama penertiban terhadap toko-toko seks di Jepang.

Selain Korea ada juga warga China, khususnya para PSK yang bakal meramaikan Jepang saat Olimpiade baik menggunakan paspor asli maupun paspor palsu nantinya.

Dunia malam dan seks tersebut juga tak akan lepas dari dunia Yakuza dan penghasilan Yakuza diperkirakan akan meningkat lagi seiring dengan semaraknya dunia malam di Jepang khususnya di Tokyo.

Tinggal dunia bawah tanah Korea dan China apakah bisa bekerjasama baik dengan Yakuza sebagai penguasa dunia bawah tanah Jepang, menjadi satu tanda tanya dan bukan tidak mungkin terjadi pula perang antar-geng kejahatan di Jepang karena uang yang masuk dari PSK China dan Korea tersebut tidaklah sedikit nantinya.

Sumber : TRIBUNnews.com

 

Ramalan Joyoboyo “Jongko Joyoboyo”

September 24, 2013

Abad kesebelas masehi seorang raja sekaligus nujum dari Jawa bagian Timur merumuskan “Jongko Joyoboyo” atau “jaman Joyoboyo”  yang akan terjadi pada masa depan. 

 Tanda-tanda datangnya Jangka/Jongko Joyoboyo tersebut sudah dekat ialah jika pada suatu masa, “terdapat kereta yang bisa berjalan tanpa kuda atau kendaraan bermesin”, “pulau Jawa berkalung besi atau rel kereta api”, “manusia berhasil menciptakan kapal yang terbang di udara atau pesawat”, “terdapat jembatan tanpa ada sungai di bawahnya atau jembatan layang”, “tidak ada tawar-menawar di pasar swalayan, sehingga sunyi-sepi sekali”.  

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran. Tanah Jawa kalungan wesi.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.

Kali ilang kedhunge.

Pasar ilang kumandhang.

Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak. 

Masa berlangsung Jongko Joyoboyo terjadi hampir berbarengan atau sebelum datangnya masa “Wolak-walik ing jaman” atau “jaman yang terbolak-balik”. Tanda-tanda manusia  bakal menemui wolak-walik ing jaman iala jika suatu masa, “bumi terasa makin sempit saja akibat penduduk terus bertambah”, “setiap jengkal tanah kena pajak”, “manusia jadi kuda penarik beban dan bahan bakarnya nasi pecel”, “kaum hawa mengenakan pakaian pria”.   

Bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret.

Sakilan bumi dipajeki.

Jaran doyan mangan sambel.

Wong wadon nganggo panganggo lanang.

Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-walike jaman.

      
Wolak-walik ing jaman dan jongko Joyoboyo berlaku secara matematis yakni selalu dimulai pada angka tahun khusus yang tidak bisa dibolak-balik atau jika diwolak-walik akan sama saja jumlah angka hasilnya periodisasi berulang tiap seratus  satu tahun yakni jatuhnya pada tahun kembar dua digit dan dimulai sejak abad kedua belas – seratus tahun sejak masa kehidupan sang nujum itu sendiri hidup di abad kesebelas. “wolak-walik ing jaman” berupa peristiwa besar yang terjadi pada abad keduabelas dalam “jongko Joyoboyo” di tahun kembar pertama jatuh pada 1212 yakni peristiwa besar tampilnya seorang rakyat jelata bernama Arok mulai memimpin pasukan untuk menyerang Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. dan juga kerajaan Kediri. Dalam sejarah peristiwa di abad keduabelas itu merupakan kudeta pertama di Nusantara. Arok kelak marak sebagai seorang raja bergelar Sri Rajasa dan sebagai pendiri dinasti Majapahit. 

Jongko Joyoboyo di tahun kembar kedua 1313 wolak-walik ing jaman yang besar ialah terjadinya peristiwa serangan pasukan Majapahit yang dipimpin Gajahmada terhadap para sahabat Raden Wijaya yang memberontak terhadap Majapahit tatkala Raden Wijaya wafat dan digantikan oleh Kala Gemet. Gajahmada kelak marak sebagai mahapatih Majapahit.

Tahun kembar ketiga 1414 Majapahit dilanda perang paregreg, musuh-musuh Majapahit dibantu oleh Cheng Ho yang mendarat dari kapal-kapal mewah berangkat dari Tiongkok tiba pertama kali di Jawa di wilayah Semarang. Cheng Ho juga menyebarkan Islam, mengakibatkan semakin cepat Majapahit yang beragama Hindu-Buddha meluncur menuju masa keruntuhannya. Dan mulailah berdiri kerajaan Islam pertama di Jawa yakni Demak. 

Tahun kembar keempat 1515 terjadi kedatangan bangsa Portugis dan berhasil berkuasa di Malaka, mereka mulai bersiap-siap menyerang pulau Jawa. Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor atau Patiunus.yang berusaha mengusir Portugis dari Malaka dengan mengirimkan armada kapal perang gabungan Demak-Majapahit-Banten-Aceh ke wilayah yang diduduki oleh Portugis di Selat Malaka yang sangat strategis jalur laut penting kapal yang menuju wilayah Nusantara. Armada gabungan tersebut gagal merebut Malaka dari tangan Portugis yang lebih unggul dari segi teknologi kapal dan persenjataan di kapal.

Tahun kembar kelima 1616 baru beberapa tahun marak sebagai raja, Sultan Agung ing Ngalogo dari kerajaan Mataram  mulai menyusun pasukan dan kekuatan militer lainnya untuk mengusir Belanda dari wilayah Batavia. Serangan Mataran terhadap Batavia 1628-1629 tidak berhasil mengusir Belanda dari Batavia. Sultan Agung sudah mengerahkan semua kekuatan pasukan darat dan lautnya kira-kira duaratus ribu pasukan. 

Tahun kembar keenam 1717 terjadi peristiwa Untung Suropati yang terus bertahan terhadap serangan Belanda hingga akhirnya Untung Suropati tewas di benteng pertahanannya di daerah Bangil. Perjuangan pasukan Untung Suropati terus dilanjutkan dengan menggabungkan diri bersama pasukan dari Surabaya dan bersama-sama menahan pasukan penakluk Belanda yang datang dari wilayah Mataram Jawa Tengah. Belanda tetap unggul karena lebih unggul dalam hal persenjataan dan strategi perangnya.

Tahun kembar ketujuh 1818, perang Jawa meletus, seorang pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda. Belanda memang sedang mengadakan serangan penaklukan di seantero penjuru Nusantara dalam rangka menyatukan wilayah Nusantara yang tunduk takluk pada pemerintah Hindia Belanda yang sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan berbagai macam produk yang sangat dibutuhkan di pasar Eropa. 

ahun kembar kedelapan 1919 terjadilah revolusi Oktober di Rusia dan untuk pertama kalinya berdiri sebuah negeri sosialis yang berideologi marxist-leninis/ komunis. Di Hindia Belanda Baars, Snevliet adalah yang pertama memperkenalkan ajaran sosialisme atau marxisme dan mendirikan ISDV pada sekitar tahun kembar tersebut. Muara daripada ISDV adalah Partai Kamunis Indonesia yang hanya dalam dua tahun sejak berdiri mampu mengorganisir pemberontakan di Sumatera Timur yang banyak terdapat perkebunan luas milik swasta dan pemerintah Hindia Belanda.

Jongko Joyoboyo yang paling dekat dari 2010 saat ini  adalah yang akan dimulai pada tahun kembar kesembilan 2020. Tekone wolak-walik ing jaman dan tekone jaman Joyoboyo atau jongko Joyoboyo sudah lengkap segala sesuatu yang menjadi pertandanya. Tanda-tanda yang disebutkan di awal tulisan ini sudah lunas dan lengkap terbukti semuanya. Maka yang seharusnya bakal terjadi ialah peristiwa besar paling dahsyat atau stadium tingkat lanjut pada masa kesembilan Jongko Joyoboyo di masa wolak-walik ing jaman kali ini. 

Peristiwa besar di tahun kembar mendatang adalah berhentinya wolak-walik ing jaman, atau terhentinya jaman terbalik-balik menjadi jaman baru, perubahan itu dapat terjadi setelah terjadi sesuatu peristiwa Yang Maha Besar. 

Ada pun skenario lainnya yakni terus bersinambungnya  Jongko Joyoboyo menuju masa kesepuluh, dan itu berarti terus berlanjutnya masa “wolak-walik ing jaman” untuk seratus tahun mendatang. Dan itu artinya  penderitaan manusia golongan tertentu di jaman terbalik-balik dan membingungkan akan berlanjut terus. (Subowo bin sukaris)